Presiden Meminta Ketegasan Kapolri Soal Protokol Kesehatan
Beritapapua.id - Presiden Meminta Ketegasan Kapolri Soal Protokol Kesehatan - Detik

Presiden Meminta Ketegasan Kapolri Soal Protokol Kesehatan – Presiden Jokowi meminta ketegasan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk menindak tegas pihak-pihak yang melanggar protokol kesehatan selama Pilkada 2020. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto.

“Catatan Presiden adalah terkait pilkada, berharap agar Kapolri bisa secara tegas menjaga protokol kesehatan dalam pelaksanaan Pilkada,” kata Airlangga, usai rapat dengan Presiden Jokowi pada Senin (28/9).

Airlangga meyakini dengan tindakan tegas dari aparat kepolisian, maka sarana penyebaran virus covid-19 bisa diminamilisir.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengakui penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia yang masih cukup tinggi salah satunya disebabkan Pilkada 2020.

“Kami masih melihat penambahan kasus positif yang cukup tinggi dan ini juga terkait dengan Pilkada,” ujar Wiku, Kamis (24/9).

Baca Juga: Provinsi Papua Barat Memperketat Pencegahan Covid-19

Muhammadiyah Akan Gugat Pemerintah Terkait Pilkada

Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abd Rohim Ghazali mengatakan bahwa pihaknya akan menggugat pemerintah apabila usai Pilkada 9 Desember, kasus covid-19 mengalami peningkatan.

“Muhammadiyah akan mengawal pilkada serentak tapi kami juga tetap berpendirian bagaimana pun pilkada serentak harus ditunda. Kami akan menggugat pemerintah jika kasus covid-19 usai pilkada 9 Desember mengalami kenaikan,” kata Rohim.

Sebelumnya, Rohim mengatakan bahwa pihaknya telah menyarankan pemerintah untuk menunda pelaksaan Pilkada 2020. Menurutnya, meski ada ketentuan penerapan protokol kesehatan secara ketat, tetapi tidak bisa menjamin bahwa Pilkada aman dari penyebaran covid-19. Ia pun kemudian menyoroti terjadinya 243 pelanggaran protokol kesehatan pada tahan pendaftaran bakal calon pada awal September lalu.

“Agama atau keyakinan dan menjaga nyawa, itu di atas segala-galanya kalau harta dan akal mungkin bisa disembuhkan tapi nyawa tidak. Makanya itu tadi ini gambling yang sangat berbahaya karena pertaruhkan nyawa rakyat,” ujar Rohim.

Rohim pun mencontohkan bahwa pada Pemilu 2019 lalu, terdapat 469 pekerja pemilu yang meninggal karena kelelahan. Ia pun mengaku tidak bisa membayangkan potensi para pekerja Pemilu yang sekarang berhadapan dengan kelelahan. Sekaligus juga harus berhadapan dengan pandemi.

‚ÄúVirus Corona ini kan sangat mudah menjangkiti orang yang kelelahan, itu untuk penyelenggara bukan lagi untuk peserta,” tegasnya.