Prof Yohanes Surya, Cendekiawan yang Berjasa untuk Papua
Beritapapua.id - Prof Yohanes Surya, Cendekiawan yang Berjasa untuk Papua - Tempo

Prof Yohanes Surya, Cendekiawan yang Berjasa untuk Papua – “Waktu itu orang beranggapan bahwa anak Papua sangat tertinggal. Kami mengunjungi beberapa SMA di Jayapura dan mengadakan tes seleksi. Tidak seperti anggapan orang, ternyata anak Papua cerdas-cerdas, logika berpikirnya bagus,” ungkap Prof Yohanes Surya.

Kalimat itu terlontar dari seorang cendekiawan Indonesia yang berjasa pada dunia pendidikan. Salah satunya untuk Papua. Ia mampu mematahkan anggapan bahwa anak-anak Papua memiliki kecerdasan yang tertinggal.

Bayangkan, ia mampu mencetak anak berprestasi dari daerah-daerah seputar Indonesia. Sejak 2006 lalu, ia sudah menyambangi 250 kabupaten lebih dari Aceh hingga Papua. Terlebih untuk Papua, Prof Yohanes mematahkan anggapan bahwa mereka adalah anak-anak yang kurang cerdas.

Ia mengakui kegigihan anak-anak timur Indonesia itu. Selama tiga tahun, Prof Yohanes membagikan ilmunya kepada anak-anak negeri cendrawasih. Melaluinya, sejumlah anak mampu mencetak prestasi nasional, bahkan internasional.

Sebutlah salah satu anak yang terkenal saat ini, yakni Septinus George Saa. pada 2004 lalu, George Saa meraih medali emas dalam The First Step to Nobel Prize in Physics melalui naungan Prof Yohanes..

Beberapa nama cendekiawan Papua lainnya juga merupakan anak didik Prof Yohanes. Selain George Saa, siapa yang tidak kenal Yane Anasay? Ia merupakan salah satu doktor fisika perempuan pertama Papua yang punya segudang prestasi. Ia merupakan lulusan Ph.D dalam bidang Fisika dari North Carolina State University 2015.

“Guru ini bisa berasal dari luar atau dari dalam Papua. Dengan kondisi Papua saat ini, guru dari dalam lebih baik. Kita perlu mendorong anak-anak di wilayah Papua untuk menjadi guru,” jelas Prof Yohanes dikutip dari medcom.id.

Baca Juga: Unjuk Rasa 18 Desember, Tuntutan Keadilan Untuk Rizieq Shihab

Profil Singkat Prof Yohanes: Tokoh Pendidikan Indonesia

“Carikan saya anak yang dianggap paling bodoh, akan saya latih,” kutipan paling terkenal dari sosok tokoh pendidikan Indonesia, Prof Yohanes Surya.

Prof Yohanes memiliki segudang kontribusi untuk pendidikan Indonesia. Mulai dari pelopor Tim Olimpiade Fisika Indonesia, penulis buku pendidikan, hingga mengajar guru-guru dan murid se-Indonesia. Salah satu metode ajarnya yang sukses ia sebut sebagai metode Gasing (Gampang-asyik-menyenangkan).

Prof Yohanes merupakan lulusan College of William and Mary, Virginia, dengan gelar Ph.D. Ia percaya bahwa semua anak lahir istimewa. Tinggal bagaimana tugas bagi para orang tua dan pendidik untuk mengasah potensi anak-anak tersebut.

Menurutnya, bekal utama seorang anak dalam mengarungi dunia sains adalah berhitung. Selama kariernya, ia menemukan sejumlah kejanggalan dalam pendidikan Indonesia. Salah satunya, sarjana yang tak bisa berhitung.

“Saya mengajar 40 sarjana yang enggak bisa penjumlahan saja cuma dua jam. Padahal sebelumnya mereka belasan tahun sekolah, tapi tidak bisa,” ujar Yohanes.

Baginya, kemampuan berhitung merupakan kunci peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Ia menyebut bahwa kemampuan berhitungnya rendah. Hal ini yang membuat Indonesia tertinggal. Jika sejak SD konsep berhitung kuat, maka murid pun jadi percaya diri.

Dalam kariernya, Yohanes juga mengajar guru-guru. Hal ini ia lakukan agar anak-anak mendapatkan guru yang berkualitas. Ia mengajarkan cara mengajarkan anak denagn metode yang luar biasa. Singkatnya, Yohanes mengajarkan cara menangani anak yang paling sulit diajar.

“1 guru harus bawa 1 murid yang paling bodoh. Saya latih gurunya dan gurunya akan melatih anaknya. Kalau mengajar yang paling bodoh saja sudah bisa, pasti akan mudah ajarkan murid lain,” ujarnya.

Dalam kancah internasional, nama Yohanes pun harum. Ia berkiprah dalam berbagai organisasi internasional seperti menjadi Board member of the International Physics Olympiad. Selain itu, ia juga menjabat Vice President of The First step to Nobel Prize sejak 1997.