Siapa yang tak kenal mantan sosok Moeldoko? Namanya belakangan santer terdengar hingga menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Kabinet Indonesia Maju alias kabinet jilid kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Mantan Panglima TNI ini tentu saja memiliki kisah perjalanannya kehidupan yang menarik untuk diulik.

Moeldoko terlahir dari keluarga dan lingkungan miskin sebagaimana menurut pengakuannya sendiri.

Sang ayah, Moestaman, adalah petani. Adapun sang ibu, Masfuah, adalah ibu rumah tangga.
Anak dari 12 bersaudara (empat meninggal) ini lahir di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri, Kediri pada 8 Juli 1957

Empat saudara Moeldoko meninggal dunia saat ia masih kecil. Delapan bersaudara yang masih dia jumpai terdiri dari lima laki-laki dan tiga perempuan.

Dalam situasi paling sulit, isi buah mangga—pelok, dalam bahasa Jawa—pun jadi santapan pengganti nasi dikutip dari Kompas.com.

Sama seperti bocah-bocah desa pada umumnya, Moeldoko sejak kecil diminta membantu kerja di sawah, sebisanya, sepulang sekolah.

Namun, bukan berarti tak ada cerita gembira di masa kecilnya. Kelayapan di kebun tebu bersama teman-teman atau bermain di sungai adalah kegembiraan.

Ia pun lulus menjadi taruna usai lulus SMA.
Dengan latar belakang kehidupan susah di masa kecilnya, semua tempaan selama menjalani pendidikan militer bukanlah persoalan besar.

Ia kemudian lulus sebagai taruna terbaik dan berhak meraih penghargaan bergengsi Bintang Adhi Makayasa.

Operasi militer yang pernah diikuti antara lain Operasi Seroja Timor-Timur tahun 1984 dan Konga Garuda XI/A tahun 1995.

Ia juga pernah mendapat penugasan di Selandia Baru (1983 dan 1987), Singapura dan Jepang (1991), Irak-Kuwait (1992), Amerika Serikat, dan Kanada.

Saat reformasi bergulir pada 1998, dia berada di Jakarta, menjadi sekretaris pribadi Wakil Kepala Staf TNI AD. Dia menjadi saksi suasana kebatinan di lingkungan TNI, terutama TNI AD, pada hari-hari itu. Karier Moeldoko di militer melaju hingga menggapai posisi puncak menjadi Panglima TNI.

Tahun 2013, ia menggantikan Laksamana Agus Suhartono dan menjadi KSAD terpendek dalam sejarah militer di Indonesia seiring pengangkatan dirinya sebagai panglima.

Selama karier militer, sejumlah penghargaan pernah Moeldoko dapatkan, termasuk dari negara-negara sahabat, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sederet bintang jasa juga tersemat di seragamnya, dengan salah satunya adalah bintang jasa Seroja.

Tak mencukupkan diri dengan pendidikan dan karier militer, Moeldoko melanjutkan pula pendidikan sarjana hingga doktoral.

Pada 15 Januari 2014, Moeldoko meraih gelar doktor Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia, dengan disertasinya berjudul “Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan Kawasan Perbatasan di Indonesia (Studi Kasus Perbatasan Darat di Kalimantan)”. Ia lulus dan mendapatkan gelar tersebut dengan predikat sangat memuaskan.

Purna tugas dari kemiliteran, saat ini Moeldoko menjabat sebagai Kepala Staf Presiden di Kabinet Indonesia Maju.

Di luar karier, baik militer maupun sipil, Moeldoko tercatat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia periode 2017-2020.

Lalu, dia juga adalah Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Terbuka periode 2019-2024.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) pada 2020, Moeldoko memiliki kekayaan dengan total Rp46,7 miliar.

Kekayaan tersebut mencakup tanah dan bangunan yang tersebar di Bogor, Jakarta, Pasuruan, dan Surabaya.

Harta kekayaan Moeldoko meningkat dibandingkan saat ia masih menjabat menjadi Kepala staf TNI AD (KASAD) pada 2013 yang berjumlah Rp 33 miliar.