Proses Pengolahan dan Prosedur Permintaan Darah di PMI
beritapapua.id - Proses Pengolahan dan Prosedur Permintaan Darah di PMI - Tirto.ID

PMI РDarah dari pendonor sebelum sampai kepada penerimanya, ternyata mengalami perjalanan yang panjang sebelumnya. Di Indonesia sendiri donor darah yang digalakkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan kegiatan sosial sebagai upaya untuk menolong sesama yang membutuhkan darah. Sebab persediaan darah setiap tahunnya hanya bisa mencukupi sekitar 2 juta kantong darah sedangkan stok darah yang harus dimiliki  antara 4,5 juta sampai 5 juta kantong darah per tahunnya. Hal ini disebabkan karena proses yang sulit dan memerlukan banyak waktu. Secara keseluruhan darah pendonor baru siap diberikan kepada seseorang itu butuh waktu sekitar 5 jam. Proses pengerjaan darah memerlukan waktu untuk pemisahaan darah, pemeriksaan laboratorium hingga karantina darah. Berikut perjalanan panjang dalan pengolahan darah hasil donor.

Baca Juga: Sejarah Panjang Rasisme di Amerika Serikat

  1. Darah dipisahkan berdasarkan golongannya

Setelah pengambilan, darah yang disumbangkan itu perlu menjalani proses penyaringan. Darah akan dikelompokkan berdasarkan golongan dan rhesusnya. Secara umum golongan darah dibedakan dengan A, B, AB, atau O serta dua jenis Rhesus positif (Rh+) dan Rhesus negatif (Rh-). Selain itu setiap kantong darah juga diberi kode bermacam-macam untuk memudahkan petugas mencari kantong darah bermasalah.

  1. Pemisahan darah

Setelah itu semua darah masuk ke laboratorium komponen darah. Dimana tiap-tiap darah dipisahkan menjadi trombosit, sel darah merah, plasma, frozen plasma, serta anti hemofili. Darah pada tubuh manusia mengandung 55 persen plasma darah (cairan darah) dan 45 persen sel-sel darah (darah padat). Proses pemisahan darah menggunakan dua cara yaitu memakai alat otomatis dan manual.

  1. Pelabelan

Setelah pemisahan semua kantung darah akan dilabeli khusus menggunakan barcode melalui sistem komputerisasi. Dalam proses ini, setiap kantung darah akan mulai dikelompokkan berdasarkan kode yang sudah disepakati.

  1. Karantina

Selain darah dimasukkan ke kantung darah, sebagian kecil darah dimasukkan ke dalam tabung kecil untuk sampel pemeriksaan penyakit. Kantung darah akan diolah di laboratorium komponen darah. Sedangkan sampel darah akan masuk uji saring terhadap (Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) seperti Hepatitis B, Hepatitis C, HIV dan sifilis. Sambil menunggu hasil uji IMLTD, semua kantung darah yang telah dilabeli akan masuk karantina. Karantina darah dilakukan dengan penyimpanan darah di ruang dingin khusus untuk menjamin darah tetap baik. Meski begitu darah memiliki masa kadaluarsa sehingga tidak boleh disimpan terlalu lama.

Adapun prosedur yang harus dilakukan untuk mendapatkan darah dari PMI adalah:

  1. Dokter pemeriksa harus membuatkan pihak keluarga pasie surat pengantar mengambil darah. Surat itu berisikan: Nama pasien, Nama rumah sakit, Golongan darah pasien, Jenis komponen darah dan Jumlah darah yang dibutuhkan.
  2. Perawat rumah sakit dan keluarga pasien membawa surat pengantar tadi ke Unit Tranfusi Darah PMI.
  3. Petugas PMI akan memutuskan apakah mereka dapat memenuhi permintaan atau tidak dan apakah mereka membutuhkan donor dari teman atau keluarga pasien sebagai ganti darah yang tidak ada.
  4. Untuk memastikan kebenaran info dari petugas PMI kalau stok darah habis, pihak keluarga dapat menghubungi langsung ke staf PMI.
  5. Apabila tersedia, pihak yang membutuhkan harus menunggu dulu karena darah harus melewati proses uji saring dan pemisahan darah.

PMI memerlukan Biaya Penggantian Pengelolaan Darah (BPPD) atau service cost. Darah yang diolah dengan metode skrining serologi (metode standar yang wajib diterapkan di PMI) membutuhkan biaya pengganti sebesar Rp250.000 per kantung darah. Sementara darah yang diolah dengan metode Nucleic Acid Testing (NAT) membutuhkan biaya pengganti sebesar Rp600.000 per kantung darah. Mahalnya metode ini karena metode ini dapat memperkecil kemungkinan darah terinfeksi serta dapat mendeteksi apakah darah terinfeksi atau tidak.