Protes Ujaran Rasis yang Berujung Penjara Karena Makar
Peserta Aksi Kamisan mengenakan topeng bergambar monyet di Taman Aspirasi dekat Istana Merdeka, Jalan Merdeka Utara, Jakarta pada Kamis (22/8/2019). (foto : tribunnews)

Protes Ujaran Rasis yang Berujung Penjara Karena Makar – Kerusuhan Papua tahun 2019 yang berawal dari protes atas ujaran rasis terhadap Mahasiswa Papua di Malang, masih segar dalam ingatan.

Ucapan “monyet” yang dilontarkan kepada mahasiswa Papua membuahkan protes dan demonstrasi yang meluas hampir di seantero kampus di Indonesia.

Orang Papua yang tidak terima atas perlakuan ini pun melakukan aksi besar-besaran sebagai tanda ketersinggungan mereka.

Protes yang diinisiasi oleh mahasiswa dan dimulai serentak ini, menarik simpati massa yang kian membesar. Massa yang melakukan long march di Manokwari dihadang oleh sejumlah aparat gabungan TNI-Polri. Kerusuhan pun tidak bisa dielakkan.

Sejumlah kantor pemerintah dibakar oleh massa. Kerusuhan yang menjalar hingga ke Jayapura dan Wamena ini merenggut beberapa nyawa.

Pihak kepolisian kemudian menuding beberapa pejuang gerakan Papua Merdeka dan Pembebasan Papua Barat sebagai dalang yang melakukan provokasi.

Victor Yeimo adalah salah satunya. Pada saat kejadian aksi damai yang berbuntut pada kerusuhan di Jayapura, Victor terlihat berdiri sebagai orator yang menyuarakan protes dan ketersinggungan sebagai orang Papua.

Victor adalah juru bicara internasional Komite Nasional Papua Barat, yang sering menyuarakan isu politik Papua Barat kepada dunia luar. Bahkan pada tahun 2019, ia diundang oleh Dewan HAM PBB di Jenewa untuk berbicara di depan forum mewakili Geneva for Human Rights.

Paska kerusuhan Papua 2019, pihak kepolisian memburu Victor yang melarikan diri. Pencarian Victor ini berdasarkan surat DPO/22/IX/RES.1.24/2019/DITRESKRIMUM sesuai LP NO : LP/317/IX/RES.1.24/2019/SPKT POLDA PAPUA Tanggal 5 SEPTEMBER 2019.

Aanslag atau Makar Masih Menjadi Primadona Untuk Membungkam Gerakan Separatis

Victor, dituduh melakukan perbuatan makar atau Aanslag, sebagaimana diatur di dalam Pasal 106 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP).

“Makar (aanslag) yang dilakukan dengan niat hendak menaklukkan daerah negara sama sekali atau sebahagiannya ke bawah pemerintahan asing atau dengan maksud hendak memisahkan sebagian dari daerah itu, dihukum penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.”

Baca Juga : KONI Provinsi Papua Berharap Pemerintah Tidak Mengundurkan PON XX

Makar sebagaimana diatur di dalam Pasal 104, adalah perbuatan yang dilakukan dengan niat hendak membunuh presiden atau wakil presiden. Perbuatan ini diikuti dengan niatan untuk merampas kemerdekaan pemimpin negara agar kursi kepemerintahan menjadi kosong.

Lantas, jika Victor yang menyuarakan kemerdekaan Papua Barat dalam orasi-orasinya, apakah bisa memenuhi unsur makar? Sedangkan R. Soesilo dalam KUHP menyebutkan, di dalam perbuatan makar, paling tidak sudah ada unsur menyerang pemerintahan yang sah terlebih dahulu.