Protokol Kesehatan dalam Penyembelihan Hewan Kurban
beritapapua.id - Protokol Kesehatan dalam Penyembelihan Hewan Kurban - UGM

Protokol Kesehatan dalam Penyembelihan Hewan Kurban – Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah yang akan jatuh pada 31 Juli 2020, agaknya terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya Perayaan Idul Adha kali ini berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Lantas bagaimanakah prodedur dan proses penyembelihan hewan kurban akan dilaksanakan nantinya. Dilansir dari Kompas.com, dalam penyembelihan hewan kurban kali ini harus lebih memperhatikan beberapa syarat diantaranya jenis ternak, umur ternak, kesehatan ternak, dan waktu penyembelihan.

Hewan kurban yang sehat dapat dilihat dari kondisi fisiknya, seperti tidak cacat, tidak luka, tidak diare, tidak pincang, mata bersih tidak berair, serta kondisi cuping hidung lembab. Jangan menyembelih hewankurban yang sakit karena dapat beresiko menimbulkan penyakit jika dikonsumsi. Untuk tempat penyembelihan dapat dilakukan di kampung atau masjid dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Namun jika kondisi wilayahnya tidak memungkinkan maka proses penyembelihan akan dilakukan di rumah potong hewan (RPH) resmi milik pemerintah.

Pada saat penyembelihan hewan kurban dilakukan diharapkan dapat mengurangi kerumunan. Panitia kurban juga diwajibkan untuk selalu menjaga jarak saat pelaksanaan penyembelihan, juga menyediakan air bersih serta sabun dan hand sanitizer. Adapun dalam proses menyembelihannya nanti, diharapkan untuk tidak melibatkan anak-anak, lansia, dan orang sakit. Sementara untuk Shohibul kurban juga tidak diharuskan hadir saat penyembelihan.

Baca Juga: Kerja dari Rumah bagi ASN Provinsi Papua Barat Resmi Berakhir

Fatwa MUI terkait Penyembelihan Hewan Kurban

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa Nomor 36 Tahun 2020 tentang shalat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19. MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban saat wabah Covid-19 untuk dijadikan pedoman. Salah satunya aturannya adalah Ibadah kurban dapat dilakukan dengan cara taukil. Yaitu pekurban menyerahkan sejumlah dana seharga hewan ternak kepada pihak lain, baik individu maupun lembaga sebagai wakil untuk membeli hewan kurban, merawat, meniatkan, menyembelih, dan membagikan daging kurban.

Sementara untuk Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, MUI menetapkan untuk melakukan sesuai protokol kesehatan. Yang mana pihak pelaksana harus menjaga jarak fisik saat melakukan penyembelihan serta Pendistribusian daging kurban dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan dengan memastikan pelaksanaan protokol kesehatan, aspek kebersihan, dan sanitasi serta kebersihan lingkungan. Terkait proses penyembelihan yang dilakukan di RPH, maka harus menyesuaikan dengan fatwa MUI tentang standar penyembelihan halal.