Pulau Babo dan Akses Kesehatan
beritapapua.id - Pulau Babo dan Akses Kesehatan - r.eezz.a

“Pulau Babo punya banyak cerita. Mulai dari bandara yang bersejarah hingga kuliner kepiting yang menggugah rasa. Namun, di balik ketenarannya, masyarakat Babo pun punya kerentanan.”

Menyambangi pulau Babo, Papua Barat, melalui jalur laut, yakni Teluk Bintuni, membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 4 jam. Waktu tempuh itu tergantung dari kapal apa yang digunakan. Pulau itu selalu ramai oleh wisatawan, baik mancanegara maupun turis lokal. Tak ayal punya banyak penggemar, pulau itu punya banyak cerita. Mulai dari Bandar Udara Babo yang lekat dengan sejarah perang dunia kedua, hingga kuliner kepiting yang populer seantero Papua.

Sebagai bekas medan perang antara sekutu dan Jepang pada tahun 1940 silam, Pulau Babo memiliki banyak serpihan ranjau pasca peperangan tersebut. Melansir dari Kompas.com, tim yang ditugaskan untuk membenahi Bandar Udara Babo perlu bantuan dari ahli zeni tempur TNI Angkatan Darat. Belum selesai perkara ranjau, Babo juga menjadi tempat tidur bagi sejumlah pesawat tempur. Hingga kini, puing-puing pesawat tempur tentara Jepang yang digunakan saat perang melawan sekutu masih dapat dijumpai di sana.

Baca Juga: Papua Raih Emas Pertama Melaui Agus Mahuse

Peninggalan Perang Dunia yang Kini Menjadi Cerita

Memoar perang dunia kedua di Pulau Babo menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Hassan, salah seorang supir ojek lokal, mengaku bahwa sisa-sisa sejarah perang dunia kedua di Pulau Babo kerap disambangi pengunjung. Pelabuhan Babo yang ramai oleh pengunjung serta tenaga kerja bongkar muat pula menambah warna-warni pulau bersejarah ini. Namun, ramainya pulau tersebut tidak didukung oleh fasilitas kesehatan yang memadai. Charles, salah seorang warga lokal, mengaku bahwa masyarakat perlu pergi ke Teluk Bintuni untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang lengkap. Pulau Babo hanya menyediakan posko kesehatan yang minim fasilitasnya.

Untuk pergi ke Teluk Bintuni, masyarakat tidak bisa sembarang pergi. Masyarakat yang hendak pergi atau keluar dari Pulau Babo menggunakan kapal perlu memperhatikan waktu-waktu tertentu di mana air laut tenang. Charles menambahkan bahwa di atas jam 4 sore air laut tinggi sehingga tidak baik untuk keluar pulau. Waktu tersebut belum ditambah dengan faktor alam seperti cuaca buruk. Ini tentu menjadi polemik bersama di mana akses pulau menjadi faktor utama dalam terhambatnya sejumlah fasilitas, termasuk kesehatan. Namun sejatinya itu bukan masalah, dinilai dari pengunjung yang kerap menyambangi pulau tersebut. Menyandang status sebagai pulau bersejarah tak berarti melupakan kesejahteraan masyarakatnya, salah satunya fasilitas kesehatan.