Puluhan Mahasiswa Jayawijaya Terancam Diusir Dari Kontrakan Jakarta
beritapapua.id - Sejumlah mahasiswa Jayawijaya yang kuliah di Jakarta. (foto: Jubi)

Puluhan mahasiswa asal Kabupaten Jayawijaya, Paua yang kuliah di Jakarta terancam terusir dari rumah kontrakan mereka. Hal ini lantaran Pemerintah Daerah Kabupaten Jayawijaya belum membayar biaya perpanjangan kontrak rumah yang mereka tempati.

Menurut informasi, ada tiga rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal mahasiswa Jayawijaya di Jakarta. Ketiga rumah kontrakan tersebut terbagi menjadi dua kontrakan putra dan satu rumah kontrakan putri. Masing-masing kontrakan tersebut berjumlah 39 orang.

Selain ketiga rumah itu ada satu asrama permanen milik Pemkab Jayawijaya, Papua dengan berisikan 16 mahasiswa yang menempati asrama tersebut.

Koordinator Wilayah Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa Jayawijaya (IKB-PMKJ) se-Jabodetabek, Natalis Nora Logo mengatakan, dari 39 mahasiswa tersebut ada 14 mahasiswa putra yang menempati kontrakan yang beralamat di Lenteng Agung Gang Pepaya No. 39A, RT 11/ RW.03, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sedangkan delapan mahasiswa putra lainnya menempati kontrakan di Ciputat, Jalan Masjid Drussa Ahada, RT.002/RW.010, Kecamatan Ciputat Timur.

Sedangkan 17 mahasiswa putri menempati kontrakan yang beralamat di Jalan Famili 1, Tanjung Barat, Jakarta Selatan No. 17A, RT 05/RW 01 Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Ada 74 mahasiswa Jayawijaya di Jakarta, sebanyak 55 mahasiswa menempati kontrakan dan asrama, sisanya 19 mahasiswa tinggal di kos-kosan,” ujar mahasiswa Semester 6 Universitas Utama Jagakarsa, Jakarta Selatan tersebut.

Biaya Kontrakan

Logo mengatakan biaya untuk ketiga kontrakan tersebut sebesar Rp280 juta per tahun. Pemkab Jayawijaya akan membayarkan biaya sewa pada setiap tahunnya. Kontrakan mahasiswa putra di Lenteng Agung yang dikontrakkan sejak 2010 sudah jatuh tempo pada 30 September 2021.

Kontrakan mahasiswa putra di Ciputat yang dikontrak sejak 2020 masa kontraknya berakhir pada 20 November 2021. Sedangkan kontrakan mahasiswa putri yang dikontrak sejak 2020 berakhir pada 18 November 2021.

Baca Juga: Menko PMK Serahkan Bantuan Jaring Pengaman Sampah di Kampung Nelayan

“Tuan rumah bilang kalau lanjut tinggal harus cepat bayar. Kalau tidak kamu harus kosongkan tempat itu. Persoalan ini membuat kita yang tinggal di kontrakan ini tidak nyaman belajar dan beraktivitas,” katanya.

Sejak Agustus 2021 Logo dan kawan-kawannya telah mengirimkan proposal untuk pengajuan pembayaran kontrakan.

“Namun sampai saat ini belum ada respon dari Pemkab Jayawijaya. Nah, di situ kami bertanya-tanya seperti apa, akankah Pemda akan bayar atau tidak,” ujarnya.

Para mahasiswa asal Kabupaten Jayawijaya yang berada di Jakarta tersebut tersebar kuliah di sejumlah kampus. Di antaranya Universitas Utama Jagakarsa Jakarta Selatan, Universitas Kristen Indonesia Jakarta Timur, Universitas Nasional Jakarta Selatan, Universitas Pancasila Jakarta Selatan, dan Universitas Indonesia Depok.

Logo dan rekan-rekannya berharap Pemkab Jayawijaya segera membayarkan supaya para mahasiswa dapat beraktivitas dengan nyaman. Jika tidak dibayarkan tepat waktu, mereka terpaksa keluar dari rumah kontrakan dan akan bertahan sementara di satu asrama permanen milik Pemkab Jayawijaya.

“Kami akan tunggu kalau memang tidak ada respon kami akan keluar. Kebetulan di Jakarta sini kami punya satu asrama, nanti kami pakai ruang tamu untuk tidur karena di asrama cuma 14 kamar,” katanya.