Puluhan Nakes RSUD Nabire Positif Terpapar Covid-19
beritapapua.id - BLU RSUD Nabire. (foto : istimewa)

Lonjakan kasus positif Covid-19 yang terjadi di Nabire beberapa pekan terakhir membuat tenaga kesehatan (Nakes) menjadi kewalahan. Akibatnya 83 juga akhirnya ikut terpapar dan terkonfirmasi telah positif Covid-19.

Dokter Toto Suprapto, MM juru bicara tim gugus tugas penanganan Covid-19, RSUD Nabire, mengatakan ada 83 nakes yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19.

Ia mengatakan dampak dari terpaparnya sejumlah nakes juga membuat kewalahan tenaga medis yang lain.

“Kami kewalahan apalagi saban hari kasus terus bertambah. Gelombang pertama Tahun lalu tidak seberat ini,” ujarnya saat memberikan keterangan melalui selulernya pada Rabu, (21/07/2021).

Dari jumlah 83 orang nakes dengan gejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Sementara dengan gejala sedang dan berat, telah menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit.

“Jumlah Nakes di RS yang sedang menjalani rawat inap ada 42 orang dengan gejala sedang sampai berat,” jelasnya.

Untuk peralatan medis, ia mengungkapkan bahwa ada sedikit kendala karena sebagian ventilator ada yang mengalami kerusakan. Hal itu membuat hanya oksigen yang menjadi alat bantu untuk pasien Covid-19 yang menerima perawatan di rumah sakit.

Namun kebutuhan oksigen di RS Nabire masih jauh dari kata cukup. Lantaran oksigen yang ada di RS Nabire adalah hasil produksi sendiri. Ia menjelaskan bahwa mesin yang ada saat ini hanya dapat memproduksinya rata-rata mencapai 60 tabung perhari.

Dengan adanya lonjakan kasus Covid-19 beberapa pekan terakhir, mesin penghasil oksigen dipaksa untuk dapat memproduksi oksigen hingga 80-90 tabung perharinya.

Dokter Toto juga telah menyampaikan permohonannya kepada Bupati untuk bisa menambah tabung oksigen. Permohonan itu ia sampaikan melalui tim gugus tugas kabupaten.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya telah menghubungi perusahaan penghasil oksigen yang ada di Nabire, namun mesin perusahaan tersebut sedang rusak.

“Kami khawatir jangan sampai mesin terus dipaksa, berakibat rusak lama kelamaan. Kami harap ada bantuan dari Pemkab Nabire, oksigen, oksigen ini tolong sekali lagi,” tuturnya.

Selain Covid-19, RSUD Nabire Juga Melayani Pasien KPS

Ia juga menambahkan bahwa saat ini RSUD Nabire juga memiliki kendala dalam pelayanannya seperti pendanaan. Karena dana yang bersumber dari BPJS Covid-19 belum terbayarkan. Sementara RSUD Nabire juga melayani pasien KPS (Kartu Papua Sehat) hampir 50%.

Sehingga pendanaan yang bersumber dari BPJS saat ini, juga digunakan untuk membiayai pasien KPS. Dampak dari hal tersebut adalah biaya yang terbatas untuk pembelian obat-obatan, APD dan keperluan RS lainnya.

Baca Juga : Sejumlah Tenaga Kesehatan di RSUD Jayapura Terpapar Covid-19

“Apalagi RS Nabire bukan hanya layani pasien dari Nabire, tetapi sebagai RS rujukan di wilayah Meepago yang pasiennya berasal dari beberapa Kabupaten seperti Paniai, atau Deyai dan Dogiyai,” lanjut Dokter Toto.

Untuk itu, ia berharap kepada masyarakat di Kabupaten Nabire untuk wajib dan taat dalam menjalani protokol kesehatan.

“Prokes itu utama selain vaksin, tolong masyarakat ikut aturan” harap dokter Toto.

Menanggapi hal tersebut, Ketua komisi A DPRD Nabire bidang Pemerintahan, Marcy kegou mengaku, telah bertemu dengan Direktur RS Nabire belum lama ini.

“Saya beberapa hari lalu ketemu direktur RS dan bahas beberapa hal tentang penanganan covid-19 di sana,” ungkap Kegou.

Sehingga komisi A berencana setelah kegiatan kunjungan kerja (kunker) nanti, akan mengundang pemerintah dan dinas kesehatan untuk membahas bagaimana jalan keluar untuk membantu RS Nabire dalam melayani pasien.

Selain itu, Kegou juga berencana untuk membangun komunikasi dengan pemkab Paniai, Deyai dan Dogiyai untuk bersama-sama mencari jalan keluar untuk membantu RS Nabire.

Karena saat ini, RS Nabire bukan hanya mengurus pasien dari Kabupaten Nabire tetapi ada pasien dari kabupaten di wilayah Meepago.

“Nanti setelah kunker kami undang Bupati dan Dinkes termasuk RSUD untuk sama-sama mencaru solusi untuk mengatasi persoalan itu, termasuk harus berkoordinasi dengan kabupaten Paniai, Deyai dan Dogiyai,” pungkasnya.