Puluhan Ribu Warga Jayawijaya Merasakan Dampak Kerugian Banjir
Puluhan Ribu Warga Jayawijaya Merasakan Dampak Kerugian Banjir

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua mencatat ribuan kepala keluarga (KK) terdampak banjir. Dan banyak KK yang telah mengungsi ke dataran tinggi karena rumah mereka tergenang air.

Hal itu membuat 23 Distrik, dan korban 7.937 Kepala Keluarga, rumah yang terendam banjir 1.289 rumah. Dan tidak luput juga terkena ialah honai, kebun masyarakat 169 hektar, dan ada 6.064 bedeng yang terendam banjir

Kepala BPBD Jayawijaya Amsal Wamo mengatakan pihaknya masih mendata kerugian yang masyarakat alami. Karena akibat hujan yang terjadi sepanjang akhir Februari hingga Maret.

Ia juga mengatakan, menurut data bahwa sejak banjir kemarin di Jayawijaya, ada 21 Distrik yang letaknya di bantaran kali baliem atau wilayah rendah dan 2 Distrik di kawasan tinggi, namun berdampak pada bencana longsor.

Lanjut Kepala BPBD Jayawijaya, “akibat banjir ada 17 jembatan kayu yang menghubungkan Kampung-Kampung, Distrik dan kampung yang rusak atau patah. Kerusakan ini curah hujan yang tinggi dari tanggal 8 Februari hingga 1 Maret 2021 kemarin lalu hujan dengan intensitas rendah hingga sedang”.

Baca Juga : Bupati Merauke Akan Meninjau Kembali BUMD Jika Tidak Efektif

“Distrik yang berdampak longsor itu Wollo dan Melagalome,” ujarnya di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Selasa (9/3/2021).

BPDB Jayawijaya : Pendataan Terkait Kerugian Banjir Masih Berjalan

“Sementara distrik yang terendam banjir itu Assolokobal, Walelagama, Libarek, Kurulu, Witawaya, Pisugi, Siepkosi, Hubikiak, Wesaput, Maima, Assotipo, Yalengga, Asologaima, Silokarno Doga, Muliama, Musatfak, Hubikosi, Usil Ombo, Bolakme, Pyramid,” tambahnya.

Data sementara yang diperoleh juga menyebutkan sebanyak 1.289 rumah warga, 169 hektare kebun, 6.064 bedeng, serta 145 kolam ikan ikut terendam air.

“Sementara untuk kebun masyarakat yang terendam banjir itu 169 hektar, dan ada 6.064 bedeng ini terpisah dari, kolam ikan 145. Sementara kerugian ternak yang mati 163 wam (babi) yang mati tenggelam maupun hanyut terbawa banjir,” jelas Amsal Wamo.

Lanjut Kepala BPBD Jayawiyaja, “akibat banjir yang terlalu lama hampir sebulan, akhirnya tanaman masyarakat mati semua. Masyarakat mengira banjir ini hanya berlangsung cepat 2-3 hari. Namun terlalu lama tergenang air sehingga tidak ada hipere (ubi) yang bisa diselamatkan”.

“Sesuai arahan pimpinan, kami masih melakukan pendataan lebih dahulu agar kebutuhan masyarakat bisa terdata. Setelah pendataan selesai kita menunggu instruksi selanjutnya dari pimpinan,” katanya.