Kesalahan Orang Lain
Kesalahan Orang Lain

Melaporkan kesalahan orang lain bagi sebagian orang adalah wajib. Ibaratnya, seperti menambal lubang dalam perahu. Apabila kita tidak memberi tahu bahwa ada kebocoran, maka seluruh kapal akan tenggelam.

Pura-Pura Tidak Tahu Kesalahan Orang Lain

Namun, pernyataan tersebut berbeda dengan pandangan satu ini. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah pura-pura tidak tahu kesalahan orang lain merupakan ciri orang terhormat. Beliau mengatakan,

مِنَ الْمُرُوْءَةِ التَّغَافُلُ عَنْ عَثَرَاتِ النَّاسِ وَإشْعَارُهُمْ أَنَّكَ لَا تَعْلَمُ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ عَثْرَةً

”Ciri orang terhormat dan mulia adalah pura-pura tidak tahu kesalahan orang lain dan memberi kesan kepada orang lain bahwa anda tidak mengetahui kesalahan yang dilakukannya.” (Madarijus Salikin 2/335)

Selanjutnya, Asy-Syaikh Badr bin Muhammad al-Badr al-Anzy hafizhahullah juga mengatakan pendapat serupa. Beliau mengatakan

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه ومن واﻻه وبعد

“Sesungguhnya pura-pura tidak mengetahui ketergelinciran orang lain termasuk sifat utama dan terpuji. Pura-pura tidak mengetahui kesalahan orang lain adalah berpaling dari perkara buruk yang muncul dari saudara atau orang lain yang tertuju kepadamu seakan-akan engkau tidak mendengarnya. Pura-pura tidak mengetahui kesalahan orang lain merupakan akhlak mulia dan termasuk sifat orang-orang yang mulia.”

Jadi, mana yang benar? Haruskan kita memberi tahu kesalahan orang lain? Atau pura-pura tidak tahu?

Tidak Semua Kesalahan Harus Diungkapkan

Baca juga: Rudy Hartono, Sang Legenda Penguasa All England

Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat At Tahrim ayat 3 berfirman,

ﻭَﺇِﺫْ ﺃَﺳَﺮَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺇِﻟَﻰٰ ﺑَﻌْﺾِ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻪِ ﺣَﺪِﻳﺜًﺎ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻧَﺒَّﺄَﺕْ ﺑِﻪِ ﻭَﺃَﻇْﻬَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻋَﺮَّﻑَ ﺑَﻌْﻀَﻪُ ﻭَﺃَﻋْﺮَﺽَ ﻋَﻦ ﺑَﻌْﺾٍ ۖ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻧَﺒَّﺄَﻫَﺎ ﺑِﻪِ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻣَﻦْ ﺃَﻧﺒَﺄَﻙَ ﻫَٰﺬَﺍ ۖ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﺒَّﺄَﻧِﻲَ ﺍﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺮ.

“Dan ingatlah ketika Nabi merahasiakan sebuah ucapan kepada salah satu istrinya, lalu ketika dia memberitahukan ucapan rahasia tersebut dan Allah menampakkannya kepada Nabi, maka Nabi memberitahukan sebagian dan berpaling dari sebagiannya. Lalu ketika Nabi memberitahukan hal itu, salah satu istrinya tersebut bertanya, ‘Siapakah yang memberitahukan kepada Anda?’ Nabi pun menjawab, ‘Yang telah memberitahukan kepadaku adalah al-Alimul Khabir (Allah)’.”

Selanjutnya, hadis itu mengisahkan mana kala Nabi shallallahu alaihi wa sallam merahasiakan sebuah ucapan kepada salah satu istrinya. Hadis tersebut punya beberapa makna.

Pertama, tidak semua kesalahan harus kita laporkan. Jenis kesalahan yang boleh kita abaikan adalah kesalahan-kesalahan kecil yang bukan sebagai bentuk maksiat. Misalnya, Kala Nabi mendapati Aisyah radhiyallahu anha belum menyiapkan sarapan, Nabi justru mengatakan padanya bahwa Nabi akan berpuasa.

Kondisi ini juga berlaku kala melihat aib orang lain. Misal, kita melihat pertengkaran antara kawan kita dan pasangannya. Maka kita boleh untuk pura-pura tidak mendengar atau melihatnya. Bahkan, lebih baik tidak membicarakannya dengan orang lain.

Kedua, pura-pura tidak tahu kesalahan orang lain agar orang tersebut merasa nyaman. Hal ini merupakan sifat terpuji. Al-Hafizh al-Mizzy rahimahullah dalam Tahdzibul Kamal,

“Ibnul Jauzy rahimahullah berkata, ‘Senantiasa pura-pura tidak mengetahui kesalahan orang lain termasuk sifat tertinggi dari orang-orang yang mulia.’”

Dengan demikian, pura-pura tidak mengetahui kesalahan orang lain memiliki aturan dan kondisi. Berbeda jika kesalahan tersebut adalah sebuah maksiat. Pun, kala kita menegur kesalahan orang lain, Islam memberikan contoh dengan cara lemah lembut.