Rakyat Tagih Janji Pemkab Nabire soal Bangun Pasar
susana pedagang pasar Nabire (foto : jubu.co.id)

Rakyat Tagih Janji Pemkab Nabire soal Bangun Pasar – Pedagang Asli Papua (OAP), terutama mama-mama di Nabire, sangat aktif menjajakan dagangannya. Mereka menjual berbagai jenis sayuran, umbi-umbian, atau kerajinan tangan seperti noken.

Suasana keaktifan mereka bisa kita temui hampir di seluruh pasar di Nabire, Papua. Baik di pasar resmi milik pemerintah maupun di pasar dadakan dan di beberapa titik trotoar.

Mama-mama Papua di Nabire tersebut menjual hasil kebun mereka dengan menggelar beralaskan karung atau tempat khusus seperti meja rendah. Lalu mereka menunggu pembeli yang datang untuk berbelanja.

Mama-mama Papua yang berdagang Noken atau kerajinan tangan lainnya di Nabire juga melakukan hal serupa.

Meski ada pasar yang disediakan, mama-mama tersebut lebih senang dan terbiasa dengan melantai di tanah atau trotoar untuk berjualan.

“Orang Papua tidak bisa berjualan di dalam pasar,” ujar Neli Nawipa, penjual sekaligus pengrajin noken di depan Taman gizi, Kelurahan Oyehe.

Hal itu, katanya, sudah berjalan lama. Mama-mama tidak terbiasa dengan kondisi bangunan yang mewah, berkeramik, dan memiliki meja. Mereka lebih nyaman berjualan di atas tanah, sebab tidak ribet dan bebas untuk bergerak.

“Kami mau jualan di bawah saja, tidak mau di atas meja,” kata warga Kampung Kalisusu, Distrik Nabire, Papua itu.

Kondisi tersebut tentu cukup memprihatinkan. Sebab dengan berjualan dengan ruang terbuka tentu cuaca juga dapat mempengaruhi daya jual mama-mama. Mereka menahan panas dan jika hujan tidak dapat menjajakan dagangan.

“Kami hanya butuh bangunan yang layak, tidak kena panas dan hujan untuk kami berjualan,” kata Debora Mote, seorang pedagang.

Janji Pemkab Nabire Membangun Pasar Layak Bagi Mama-mama

Debora yang sehari-hari berjualan sayuran hasil kebunnya mengungkapkan, Pemkab Nabire melalui Dinas Perdagangan pernah berjanji akan membangun pasar layak bagi mama-mama Papua. Janji tersebut ia baca di media hampir setiap tahun sejak 2018 di bawah kepemimpinan Bupati Isaias Douw.

Debora mempertanyakan janji itu. “Jangan suka memberi janji jika tidak ditepati,” ujarnya. Kondisi mama-mama seperti itu menimbulkan simpati anak muda Nabire. Pada 2017 muncul sekelompok anak muda yang menamakan diri Relawan Pasar Mama-Mama Papua. Para relawan tersebut kemudian membentuk Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP) dalam musyawarah pada Maret 2020.

“Munculnya relawan atau asosiasi ini karena keprihatinan terhadap mama-mama asli Papua di pasar,” ujar Mikael Kudiai, juru bicara APAP.

Memberikan Pelatihan dan Pendampingan Kepada Mama-mama Nabire

Visi-misi APAP adalah memperjuangkan hak-hak pedagang asli Papua, terutama mama-mama yang berjualan di pasar. Mereka juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada mama-mama pasar di Nabire. Tujuannya membangun ekonomi produktif berbasis kerakyatan.

“Mama-mama pedagang asli Papua di Nabire perlu mendapatkan tempat yang layak untuk berjualan, setidaknya mereka tidak terkena terik matahari dan terlindung pada saat hujan,” ujarnya.

Baca Juga : Meskipun Pandemi, Bupati Banua Lantik 80 Pejabat

Selain itu, mama-mama juga harus perlu pendampingan dan pelatihan tentang manajemen.

“Yang kami impikan adalah mama-mama harus memiliki pasar yang layak, lalu hasil jualan mereka tidak habis dipakai, tapi ada sedikit untuk disimpan,” kata Kudiai.

Program jangka panjang APAP adalah mendorong adanya tempat jualan atau pasar yang layak agar mama-mama terlindung dari hujan dan panas. Pasar yang dikehendaki harus sesuai dengan budaya lokal dan keinginan mama-mama Papua. Selain itu, pendataan mama-mama Papua di pasar-pasar.

Sedangkan program kerja jangka pendek dan menengah dalam dua tahun (2021-2022) adalah melakukan konsolidasi dengan mama-mama dan pelatihan manajemen.