Kasus Perselingkuhan
Ramai Kasus Perselingkuhan, Bagaimana Menyikapinya

Kasus perselingkuhan terlihat makin ramai akhir-akhir ini. Entah karena perkembangan teknologi yang memudahkan informasi tersebar, atau bahkan membuat perselingkuhan semakin mudah. Namun, ini berkaitan satu sama lain.

Kasus Perselingkuhan

Bayangkan, saat ini kita dengan mudah mendengar isu tentang perselingkuhan orang lain. Bahkan, ada sebagian yang tidak benar.

Sebagai seorang muslim, kita perlu ambil sikap dalam kasus ini. Ternyata, terdapat kaidah dan larangan yang perlu kita waspadai dalam melihat kasus ini. Meskipun kita bukan orang yang terlibat dalam kasus perselingkuhan, namun kita memiliki tanggung jawab ketika mendengar kabar tersebut.

Dalam surat Al Hujurat ayat 12, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَجَسَّسُوا

“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.”

Allah subhanahu wa ta’ala melarang hamba-Nya untuk mencari aib orang lain, atau tajassus. Perilaku ini termasuk membicarakan aib orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita. Lantas, apa hubungannya tajassus dan perselingkuhan?

Sibuklah dengan Aib Sendiri

Baca juga: Kunci Keberhasilan Adalah Menjadi Orang Sabar

Kasus perselingkuhan tak hanya kasus Nissa Sabyan. Masih banyak kasus serupa yang mendera orang lain. Baik itu artis maupun bukan. Lantas, mari kita jadikan momen ini untuk mengingat kembali larangan untuk mencari aib orang lain.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.”

Sebagaimana pepatah ‘Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak’, kita kadang lupa tentang aib kita sendiri. Padahal, kita punya banyak aib yang perlu kita benahi.

Banyangkan, jika dosa kita memiliki bau, maka sudahlah kita sangat bau saat ini. Bayangkanlah bahwa dosa itu bau. Maka, kita akan sibuk mengurusi bau kita sendiri sebelum mengurusi bau orang lain.

Menggunjing atau membicarakan aib orang merupakan perbuatan yang tidak adil. Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menutup aib kita sedangkan kita seenaknya membuka aib orang lain.

Abi Barzah al-Aslami radhiyallahu anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

يَامَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيْمَانُ قَلْبَهُ ، لاَ تغتَابُوا المسلمين، وَلاَتَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Hai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun imannya tidak sampai ke hatinya ! Janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin ! Jangan pula kalian mencari-cari kesalahan mereka. Sesungguhnya, orang yang mencari-cari aib Muslimin, maka Allah akan mencari kesalahannya. Barang siapa yang Allah cari kesalahannya, maka Allah akan membuka keburukannya di dalam rumahnya.”

Berbahagialah Mereka yang Menutup Aib Orang Lain

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ اَلدُّنْيَا, نَفَّسَ اَللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اَلْقِيَامَةِ , وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ, يَسَّرَ اَللَّهُ عَلَيْهِ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا, سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ اَلْعَبْدِ مَا كَانَ اَلْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

“Barang siapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Lalu Barang siapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Sebagai muslim, kita bagaikan satu tubuh. Apabila satu bagian tubuh sakit, maka bagian lainnya akan merasakan dampaknya. Begitulah hadis tersebut memandang kehidupan masyarakat.

Ketika saudara kita memiliki aib, maka menjadi tanggung jawab kita untuk membantu mereka dengan tidak menyebarkan aibnya. Hal ini termasuk dalam bentuk membantu yang mana akan Allah balas pada hari kiamat.

Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menutup aib hamba-Nya dan menolongnya ketika mereka berbuat baik kepada sesama.

Jangan umbar aib orang lain. Sebaliknya, jadikanlah pelarajan bagi kehidupan selanjutnya. Maka, kita tidak hanya membantu orang yang bertikai. Kita juga membantu masyarakat menjadi lebih damai dan tenang.