Rapid Test Produksi WHO Hanya Rp 70 ribu
Beritapapua.id - Rapid Test Produksi WHO Hanya Rp 70 ribu - Suara

Rapid Test Produksi WHO Hanya Rp 70 ribu – Badan Kesehatan Dunia (WHO) akan segera meluncurkan alat rapid test yang murah, sebagai bentuk bantuan terhadap negara-negara yang miskin. Program ini memakan anggaran sekitar 600 juta dollar Australia atau sekitar Rp 6 triliun. Biaya untuk alat rapid test ini sekitar Rp 70 ribu.

Rapid test sendiri dianggap kurang akurat, namun mampu memberikan hasil lebih cepat dibanding test usap (SWAB). Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut bahwa program terbaru ini adalah suatu kabar baik dalam perang melawan covid-19.

“Tes ini akan memberikan hasil yang bisa dipercaya dalam waktu 15 sampai 30 menit, dan bukannya dalam bilangan jam atau hari, dengan harga lebih murah dan peralatan yang tidak begitu canggih,” katanya.

“Ini akan memungkinkan perluasan testing khususnya di daerah yang susah dijangkau yang tidak memiliki fasilitas laboratorium atau tidak punya tenaga kesehatan yang bisa melakukan PCR test. Kita sudah mencapai persetujuan, kita sudah memiliki modal awal, dan sekarang memerlukan dana penuh untuk membeli alat tes ini,” tambah Tedros.

Tedros mengharapkan program ini dapat segera mulai pada bulan Oktober.

Baca Juga: Veronica Koman Soal Pelanggaran HAM Papua

Peruntukan Rapid Test Untuk Negara Miskin

Direktur Eksekutif Global Fund, Peter Sands mengatakan bahwa test yang akurat bukan jadi solusi untuk pandemi. Peter mencontohkan bahwa negara seperti Perancis dan Amerika Serikat mengalami masalah waktu untuk mengetahui hasil test.

Pengutamaan negara miskin, menurut Peter, adalah agar para tenaga kesehatan pada negara tersebut bisa mengindentifikasi sebaran virus dengan cepat. Kemudian melakukan tindakan penanggulangan.

Peter mengatakan negara-negara maju saat ini mengadakan 292 tes per 100.000 penduduk. Sementara negara-negara lebih miskin hanya bisa melakukan 14 tes per 100.000 orang.

“Ini bukan pengganti PCR namun menjadi senjata tambahan yang kita miliki. Meskipun kurang akurat, tapi hasilnya lebih cepat, lebih murah dan tidak perlu adanya laboratorium khusus,” kata Peter.

Peter menambahkan bahwa Global Fund, lembaga yang pimpinannya, akan menyediakan dana awal sebesar Rp 750 miliar untuk mengembangkan alat rapid test ini.