Rasisme
Rasisme Terhadap Orang dan Pidananya

Rasisme Terhadap Orang dan Pidananya – Ujaran yang bernada rasialis kembali menghebohkan media sosial kita. Ambrocius Nababan, kader Partai Hanura melontarkan sebuah pesan di media sosialnya yang dianggap melecehkan orang Papua. Ujaran yang dilontarkan oleh Ambrocius kepada Natalius Pigai memantik kemarahan dari masyarakat.

Caleg yang pernah mencalonkan diri melalui Dapil Papua tersebut, membandingkan Natalius Pigai dengan seekor gorilla. Dia membandingkannya melalui memes yang diunggah di akun pribadinya. Pada status facebooknya, Ambrocius menulis “Edodoeeee pace, vaksin ko bukan sinovac pace, tapi ko pu sodara bilang vaksin rabies, sa setuju pace”.

Rasisme Terhadap Orang

Ujaran atau ungkapan yang bernada rasis, bukan sekali dua kali terlontar hingga mengakibatkan kericuhan. Pada tahun 2018, kita pernah digemparkan dengan peristiwa yang sama. Peristiwa yang mengakibatkan kerusuhan di beberapa tempat di Papua dan Papua Barat tersebut terpantik oleh ucapan yang menyinggung hal yang sama.

Lantas, apakah hukuman bagi seorang pelaku ujaran bernada rasialis? Selain ujaran kebencian maupun UU ITE yang bisa dipergunakan untuk menjerat pelaku rasisme, terdapat undang-undang yang secara khusus mengatur tentang hal ini.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis

Baca juga: Dua Gempa Guncang Papua dan Papua Barat pada 25 Januari 2021

Undang-undang ini hadir sebagai penegasan atas kesetaraan hak bagi seluruh masyarakat, tanpa memandang ras maupun etnis.

Pada pasal 4 huruf b, UU 40/2008, tindakan diskriminatif merupakan tindakan yang memenuhi unsur sebagai berikut:
b. menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan:
1. membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan, atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain;
2. berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain;
3. mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, kata-kata, atau gambar di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dibaca oleh orang lain; atau
4. melakukan perampasan nyawa orang, penganiayaan, pemerkosaan, perbuatan cabul, pencurian dengan kekerasan, atau perampasan kemerdekaan berdasarkan diskriminasi ras dan etnis.

Sanksi pidana yang diatur pada Pasal 16, UU yang sama, mengancam pelaku dengan pidana penjara paling lama lima tahun, dan atau denda paling banyak Rp500 juta. Hal ini seharusnya bisa menjadikan jera bagi mereka yang masih menganggap ujaran rasisme merupakan hal yang biasa-biasa saja.

Dalam konteks kebangsaan, negeri dengan ragam suku, ras dan agama seharusnya memperjuangkan toleransi dan kesetaraan secara kolektif sebagai bentuk nasionalisme. Sangat disayangkan, justru beberapa kali ujaran dengan nada yang sama, justru dilontarkan oleh mereka yang seharusnya menjadi panutan.