Ratusan Nelayan, Kasus Perbudakan Benjina
beritapapua.id - Ratusan Nelayan, Kasus Perbudakan Benjina - Mongabay

Kasus Perbudakan Ratusan Nelayan di Timur Indonesia atau lebih dikenal dengan Kasus Benjina sempat menghebohkan di Indonesia ditahun 2015. Hal ini berawal saat Tim Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Illegal Fishing mendapati 322 anak buah kapal (ABK) asing terdampar di areal pabrik milik PT. Pusaka Benjina Resorces (PBR) di Benjina, Kepulauan Aru, Maluku dalam kondisi sangat memprihatinkan. PT. Pusaka Benjina Resources (PBR) diduga melakukan perbudakan atas anak buah kapal (ABK) berkewarganegaraan asing di daerah tersebut. Mereka diduga menjadi korban kerja paksa oleh perusahaan perikanan berbendera Thailand di wilayah Indonesia.

Jumlah korban pebudakan terbanyak adalah warga negara Myanmar, yakni sebanyak 256 orang. Terbanyak kedua adalah ABK dari Kamboja sebanyak 58 orang. Sisanya delapan ABK berasal dari Laos. Terutama saat kuburan massal ditemukan oleh Tim Investigasi kasus perbudakan ABK di Benjina, Maluku. Tak jauh dari lokasi penyekapan, terdapat kuburan masal dengan ejeran plang nama kayu beragam warna menjadi tanda bersemayamnya puluhan jenazah yang diduga menjadi korban perbudakan.

Baca Juga: Telingaan Aruu, Tradisi Mengenakan Anting Khas Suku Dayak

Kasus Perbudakan Terindikasi oleh Kantor Berita Associated Press

Kantor berita Associated Press (AP) menjadi media yang mewartakannya untuk pertama kali. Mereka mengindikasi terjadi perbudakan terhadap ABK pada kapal-kapal yang dioperasikan PT. Pusaka Benjina Resources. Ratusan ABK menjadi korban perbudakan, berasal dari Thailand, Laos, Kamboja, Myanmar. Mereka dibawa ke Indonesia melalui Thailand dan dipaksa untuk menangkap ikan, seperti cumi-cumi, udang, kakap, kerapu dan ikan lainnya. Laut Arafura memang dikenal menyediakan beberapa tempat penangkapan ikan terkaya dan paling beragam di dunia. Penuh dengan makarel, tuna, cumi-cumi, dan banyak spesies lainnya. Hasil tangkapan itu kemudian dikirim memasuki arus perdagangan global.

Disebutkan bahwa ABK diperlakukan tak manusiawi, seperti dipaksa bekerja 20-22 jam per hari, dikurung, dan disiksa bahkan mereka dipaksa untuk minum air yang tidak bersih. Dalam kasus terburuk, banyak orang melaporkan cacat hingga kematian di atas kapal. Mereka dibayar sedikit, bahkan ada yang tidak dibayar. Berdasarkan penelusuran AP, ikan-ikan itu dapat berakhir di toko-toko kelontong utama Amerika seperti Kroger, Albertsons dan Safeway, Wal Mart, Sysco, Fancy Feast, Meow Mix dan Iams.

Berdasarkan reportase AP tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beserta aparat penegak hukum bergerak untuk membebaskan ratusan nelayan yang terkurung di kawasan tersebut. Berdasarkan pengakuan salah seorang ABK, sebagian besar dari mereka telah diekploitasi sekitar 10 tahun tanpa bayaran. Bahkan beberapa mengaku sempat dilecehkan dan dikurung dalam sel. Luka lebam dan sayatan di sekujur badan menjadi bukti kerasnya penyiksaan. Tim Investigasi menemukan indikasi kuat adanya kerja paksa dan penganiayaan yang dialami oleh ABK di sana. Ratusan WNA korban perbudakan itu telah dievakuasi ke pelabuhan Tual. Sebab ada beberapa ABK sakit dan ada yang lumpuh dan sekarang dirawat di rumah sakit di Tual. Perwakilan dari negara-negara asal korban perbudakan pun dijadwalkan akan segera mengevakuasi warganya.