Rayakan Hardiknas, Sekolah di Aceh hingga Papua Akan Direnovasi
beritapapua.id - Rayakan Hardiknas, Sekolah di Aceh hingga Papua Akan Direnovasi - Media Indonesia

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) merupakan momentum bangsa untuk kembali mengingat makna pendidikan. Sebuah momen untuk napak tilas perjalanan pembangunan dan kemajuan insan Indonesia dari titik terendah hingga kepada masyarakat yang maju dan beradab. Menuntut ilmu merupakan gerbang untuk mewujudkan hal tersebut.

Dalam merayakan momentum kebangkitan pendidikan di Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan merehabilitasi sekolah di seluruh di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Hal ini ditujukan demi menunjang pendidikan anak Indonesia setelah masa pandemi berakhir.

“Standar bangunan dan kelengkapannya semoga bisa diterapkan di sekolah-sekolah lain. Manfaatkan fasilitas yang sudah dibangun. Generasi mendatang harus lebih pintar karena fasilitasnya lebih baik,” papar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, dilansir dari Kompas.com dari situs resmi Kementerian PUPR Senin (04/05), 2020.

Mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pembangunan, Rehabilitasi, atau Renovasi Pasar Rakyat, Prasarana Perguruan Tinggi, dan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Basuki mengatakan bahwa fasilitas sekolah haruslah baik.

Maksud baik adalah mengacu pada standar rehabilitasi dan renovasi sekolah yang berlaku, yakni dengan pengadaan fasilitas berupa lapangan olahraga, toilet yang baik termasuk tempat cuci tangan, ruang hijau yang mumpuni, dan bangunan tahan gempa. Rencana pemugaran bangunan sekolah yang dilakukan Kementerian PUPR merupakan perwujudan dari tema Hardiknas yakni Belajar dari Covid-19.

Baca Juga: DPRD Kota Ambon Bakal Alihkan Rp8 Milyar untuk Tangani Covid-19

Pesan dari Menteri Pendidikan di Hardiknas

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, dalam wawancara daring langsung bersama Najwa Shihab menuturkan sejumlah pesannya terhadap warga Indonesia secara umum. Menurutnya salah satu upaya dalam menanggapi tantangan zaman ialah tetap tenang agar pikiran jernih.

“Lakukan hal-hal yang rasional. Tapi bagi yang panik justru mereka akan kemana-mana atau tidak bisa menjaga akal sehat,” kata Nadiem menjawab pertanyaan pertama Najwa.

Beradaptasi terhadap situasi adalah keharusan. Dalam masa pandemi seperti saat ini, Nadiem mengimbau untuk menjaga diri dari informasi yang simpang siur. Berbagai macam teori konspirasi mengenai covid-19, mulai dari dugaan penyebar virus, hingga pemusnahan manusia secara massal. Menurut Nadiem, di sanalah peran pendidikan.

Menangkal isu radikal membutuhkan ketajaman akal. Bukan lagi saatnya menggunakan nalar untuk menyalahkan pihak tertentu kala musibah mendera. Mempelajari apa yang lalu-lalu untuk memperbaiki apa yang gagal pada saat ini merupakan wujud dari nalar yang tajam. Salah satu bentuknya adalah gotong royong dalam menyonsong perubahan.

“Karena penggunaan akal sehat itu, maka masyarakat memilih jalur gotong royong. Kalau kita semua memikirkan diri sendiri maka semua gagal. Jadi ini adalah tantangan kolaborasi luar biasa,” imbuhnya Nadiem.

Imbauan untuk beradaptasi oleh Nadiem seakan diamini oleh Prof. Unifah Rosyidi, Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Lebih spesifik ia mengatakan bahwa ini merupakan momen untuk bangkit bersama melawan corona, serta melawan kemalasan yang mengakar dalam menuntut ilmu.

“Inilah momentum. Pandemi Covid-19 kita jadikan momentum untuk bangkit bersatu, belajar bersama, tertib bersama, dan bergerak bersama melawan Corona, melawan kemalasan, melawan ketertinggalan, melawan hal yang semula dirasa tidak mungkin menjadi mungkin,” ucap Prof. Unifah Royidi.