Resume Bedah Buku 75 Tahun Menerangi Negeri
Resume Bedah Buku 75 Tahun Menerangi Negeri

Resume Bedah Buku 75 Tahun Menerangi Negeri – Kebutuhan listrik negara ada sangat berhubungan dengan alur produksi, jalur distribusi listrik, dan lain sebagainya. PLN merupakan perusahaan yang menyediakan serta bertanggung jawab atas hal tersebut. Sebagaimana Rida Mulyana, Direktur ESDM, menyebut bahwa tentu tidak mudah mengalirkan listrik pada negara kepulauan.

Prolog: Sejarah 75 Tahun Menerangi Negeri

Baca juga: Efek Buruk Miras dan Dilema Kearifan Lokal

Tantangan tak hanya datang dari distribusi, namun kondisi geografis menambah kerja keras untuk mengalirkan listrik. Bayangkan, PLN harus menyediakan listrik bagi seluruh warga Indonesia selama 24 jam. Terlebih, tak semua daerah itu aman. Baik aman dalam konteks geografis atau keamanan fisik.

Oleh karenanya, menjadi penting memahami sejarah pembangkitan listrik di Indonesia. Awalnya, listrik di Indonesia bermula dari pabrik teh dan gula milik Belanda. Sekitar abad-19, pabrik ini mendirikan pembangkit listrik pribadi untuk mendukung produksi teh dan gula. Setelah terjadi perebutan kekuasaan antara Jepang dan Belanda, tahun 1945 pabrik ini akhirnya dapat jatuh ke tangan Indonesia.

Akhirnya, 27 Oktober 1945 Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas awal tenaga listrik sebesar 157,5 MW.

Mengutip testimoni dari Direktur ESDM, terdapat 3 poin menarik dari buku ini. Antara lain:

  1. PLN adalah bagian dari kemerdekaan Indonesia.
  2. Kehadiran negara disimbolkan oleh pekerjaan listrik juga.
  3. Pendekatan visual tentang pekerjaan kelistrikan Indonesia.

Apa Kata Mereka Tentang 75 Tahun Menerangi Negeri? Sebuah Perspektif dari Para Tokoh

Tri Haryono: Penulis

Resume Bedah Buku 75 Tahun Menerangi Negeri 1
Foto tangkapan alasan pembuatan buku. Foto: tangkapan layar Webinar Bedah Buku “75 Tahun PLN Menerangi Negeri”, (Rabu 04/04/2021)

Beliau adalah penulis buku “75 Tahun PLN Menerangi Negeri”. Menurut beliau, urgensi pembuatan buku ini adalah bahwa buku sejarah PLN itu saat ini sudah jarang. Terakhir buku ada 50 tahun setelah menerangi Indonesia.

Secara singkat, buku ini mengisahkan perjuangan para pekerja PLN dalam menyinari dan mengaliri listrik hingga seluruh pelosok. Mulai dari sejarah listrik digunakan untuk industri bisnis tertentu pada masa penjajahan Belanda.

Perubahan fungsi perusahaan listrik pada masa pendudukan Jepang, yakni listrik digunakan untuk kebutuhan pertahanan. Kemudian, perebutan perusahaan listrik pada tahun 45 hingga 49, PLN menghadapi tantangan besar dengan merebut perusahaan Listrik dengan nyawa mereka.

Masih banyak kisah-kisah lainnya yang begitu menyentuh. Termasuk perjuangan PLN dalam menyalakan listrik di pelosok pada tahun-tahun awal kemerdekaan. Menurut Tri, PLN memiliki pelanggan yang begitu besar dari kota besar hingga pelosok. Tidak ada perusahaan yang mampu melayani pelanggan seluas ini, bahkan menyediakan pelayanan 24 jam.

Salah satu poin menarik dari buku tersebut adalah bagaimana PLN menjadi simbol kemerdekaan Indonesia. Ini mengisahkan betapa pentingnya peran listrik dalam menyatukan serta membangun kedaulatan Indonesia.

Arbain Rambey: Kurator

Arbain Rambey
Arbain Rambey – Kurator

Baca juga: Kunci Keberhasilan Adalah Menjadi Orang Sabar

Beliau adalah kurator buku “Menerangi Indonesia Memajukan Bangsa”. Visi buku kedua adalah menggambarkan apa yang terjadi dan perjuangan PLN selama 75 tahun menyinari Indonesia.

Salah satu tantangannya adalah, ada 6 provinsi masing-masing dikerjakan 1 fotografer yang mana ini sangat sulit. Selain itu, masa pandemi membuat proses pengambilan gambar menjadi sulit. Terlepas dari itu, buku ini adalah karya yang luar biasa. Dalam karya jurnalistik, ini adalah sebuah esai foto yang panjang mengisahkan perjalanan PLN selama 75 tahun.

Buku kedua mirip seperti komik. Perbedaannya, foto-foto ini benar-benar membawa pembaca ikut dalam perjuangan PLN menyalurkan listrik. Salah satunya, foto tiang listrik di tengah laut, di Lombok. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi PLN sekaligus memberikan gambaran betapa sulitnya mengaliri listrik di Indonesia.

Arbain Rambey
Foto di lombok, tiang listrik di tengah laut. Foto: tangkapan layar Webinar Bedah Buku “75 Tahun PLN Menerangi Negeri”, (Rabu 04/04/2021)

Buku ini juga mengabadikan pembangkit listrik tertua di Indonesia, yakni sudah ada sejak masa pendudukan Jepang. Buku ini berusaha bercerita secara visual tentang sejarah dan perjuangan PLN. Sehingga, pembaca dapat memahami secara utuh, bagi secara teks maupun visual.

Resume Bedah Buku 75 Tahun Menerangi Negeri
Foto pembangkit listrik tertua di Tonsea Lama, Minahasa. Foto: tangkapan layar Webinar Bedah Buku “75 Tahun PLN Menerangi Negeri”, (Rabu 04/04/2021)

Menceritakan 75 tahun PLN bahwa ini adalah fakta. Buku ini mengungkap fakta-fakta yang sedikit orang ketahui. Menurut Rambey, ia sangat salut bahwa tanpa PLN, banyak hal yang tidak dapat dilakukan bagi dirinya secara pribadi.

Darmawan Prasodjo: Wakil Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara

“Bangsa yang besar itu adalah bangsa yang selalu mengingat sejarah. Karena dari sejarah itu muncul sifat yang disebut pride dan courage.” Soekarno.

Ada beberapa hal penting dalam buku ini. Pertama, karakter ketokohan dari kisah-kisah pemimpin PLN kala menghadapi tantangan setiap zamannya. Kedua, knowledge atau pengetahuan yang berbasis pada kekuatan korporasi, khususnya bagaimana PLN menghadapi tantangan tiap zaman.

Ini yang menjelaskan mengapa penting melihat sejarah perjalanan PLN menerangi Indonesia. Bayangkan, dalam teknologi yang terbatas, PLN mampu menangani tantangan yang ada. Maka dari sana muncul sebuah pengetahuan yang berharga yang kelak dapat membantu tantangan di kemudian hari.

“There is a magnificent power lies within PLN,” ungkap Darmawan Prasodjo. “Dan ini yang direkam dalam buku ini,” imbuhnya.

Deedarlinto: Assistant Professor of Mechanical Engineering, Gadjah Mada University

Buku ini adalah sejarah dan internal knowledge. Dalam pembahasan energi, internal knowledge ini disebut sebagai tested knowledge. Dan, bagi Deedarlinto, karya ini ini membuktikan bahwa tested knowledge dari PLN ini tidak akan hilang.

Energi bukan lagi sebagai state revenue, namun menjadi modal dasar pembangunan nasional. Menurut Deedarlinto, buku ini menjelaskan perjalanan PLN menerangi Indonesia. Mulai dari periode pra kemerdekaan, revolusi, hingga modern seperti saat ini,

Webinar Bedah Buku “75 Tahun PLN Menerangi Negeri”
Foto tangkapan layar perjalanan PLN menerangi Indonesia. Foto: tangkapan layar Webinar Bedah Buku “75 Tahun PLN Menerangi Negeri”, (Rabu 04/04/2021)

Dari sisi akademis, buku ini mudah dipahami dan memiliki metodologi riset yang baik. Buku ini mengajarkan kepada masyarakat luas tentang nilai akademis yang lugas, mudah dibaca, sarat akan nilai nasional dan simbol perjuangan negara.

Buku ini pun dapat menjadi rujukan akademis bagi mahasiswa dan mahasiswi energi. Terlebih, buku ini memiliki gambaran visual yang menarik. Bagi Deedarlinto, ada 5 program yang perlu dipertimbangkan oleh PLN demi perkembangan yang lebih baik. Antara lain:

  1. Percepatan Elektrifikasi Desa 3T.
  2. Substitusi PLTD ke PLTBM/BG atau sistem Hybrid.
  3. Biomassa untuk PLTU.
  4. Pemberdayaan masyarakat dengan pemerintah pusat dan daerah.
  5. Perencanaan alokasi pembankit non EBT.
Webinar Bedah Buku “75 Tahun PLN Menerangi Negeri”
Foto tangkapan layar program PLN. Foto: tangkapan layar Webinar Bedah Buku “75 Tahun PLN Menerangi Negeri”, (Rabu 04/04/2021)

Program-program tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, bahkan menjadi modal dasar pembangunan nasional. PLN mampu memajukan perekonomian Indonesia.

Akhir Kata

Akhir kata, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, ‘Apa pentingnya mempelajari sejarah PLN?’ Hal ini yang dijawab oleh buku ini. Mengutip Darmawan Prasodjo, bahwa sejarah memiliki pelajaran yang berharga bagi kita semua.

Ada 3 alasan mengapa mempelajari sejarah PLN menjadi penting. Pertama, memahami karakter para tokoh pemimpin PLN dalam menanggapi tantangan setiap zaman. Bayangkan, teknologi masa lalu tak secanggih saat ini. Namun, PLN berhasil menyinari 99,9 persen Indonesia.

Kedua, buku tersebut memberikan knowledge atau pengetahuan tentang mengatasi masalah-masalah tersebut. Tak hanya itu, buku tersebut menyediakan knowledge berupa gambar dan foto yang mampu membangkitkan rasa kecintaan kita terhadap negara.

Ketiga, buku ini mampu membangkitkan rasa cinta kita terhadap negara. Bahwa PLN sebagai simbol kehadiran negara hingga pelosok negeri. Ketika kita merasakan nikmatnya listrik, maka di sana kita perlu sadar bahwa ada negara yang hadir untuk membantu kita.

Q&A and Quotes 75 Tahun Menerangi Negeri

1. Apa tantangan terbesar PLN dalam memberikan akses listrik pada daerah terpencil dan terisolir

Darmawan Prasodjo: tantangan terbesar adalah tantangan geografis yang luar biasa. Semua ini sudah terekam dalam kedua buku yang sudah dibuat oleh PLN. Namun, kami belajar dari sejarah atas tantangan yang ada untuk mengurai permasalahan tersebut.

Zulkifli Zaini: Rasio elektrifikasi di Indonesia sudah hampir mencapai 100, sudah sampai 99,9 persen. Apa yang bisa kita tarik dari kesimpulan? Hanya tersisa sedikit sekali yang belum teraliri listrik. Perjuangan untuk 1 persen terakhir ini membutuhkan daya juang yang luar biasa. Kenapa? Karena lokasi 1 persen itu adalah yang paling sulit dan sangat terpencil, bahkan belum kondusif secara keamanan.

2. Makna kedaulatan melalui PLN?

Mengapa PLN disebut sebagai simbol kedaulatan negara? Karena keberadaan listrik di seluruh wilayah Indonesia adalah bentuk kehadiran negara bagi masyarakat.