Bakar Batu
Beritapapua.id - Tradisi Bakar Batu Ritual Kebudayaan Unik Asal Papua

Tradisi bakar batu adalah salah satu dari beragam kebudayaan unik yang berasalkan dari Papua. Ritual ini merupakan ritual memasak yang dilakukan suke pedalaman Papua untuk menujukan rasa syukur atau silahturahmi dengan keluarga atau kerabat. Masyarakat Papua memiliki banyak adat dan kebudayaan yang unik, baik dari pakaian adat, tarian hingga ritual yang mereka lakukan.

Tradisi bakar batu sendiri umunya dilakukan oleh suku pedalaman yang ada didaerah pegunungan. Daerah tersebut seperti di lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Jayawijaya dan berbagai daerah sekitarnya. Nama dari ritual ini pun berbeda-beda disetiap daerah, namun memiliki makna dan proses yang sama. Tradisi ini konon sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu, dimana para penduduk membutuh alat bantu masak, sehingga mereka menggunakan batu.

Tradisi Bakar Batu

Ritual ini dimulai sejak dini hari. Dimana sang Kepala Suku yang mengenakan pakaian adat mengundang para warga sekitar untuk menghadiri tradisi bakar batu. Setelah Kepala Suku mengundang warganya, mereka akan memulai perburuan disiang hari untuk mendapatkan bahan makanan yang akan dimasak dengan batu tersebut. Dalam perburuan, mereka mempercayai bahwasanya bila panah dapat langsung membunuh hewan buruan, acara bakar batu akan berjalan dengan lancar. Namun, bila panah tidak mampu membunuh hewan buruan secara langsung, maka ritual mereka akan menghadapi kendala.

Baca juga: Melahirkan SDA Dalam Menyeimbangkan Potensi Alam Indonesia

Setelah mendapatkan bahan hasil buruan, mereka menggali lubang yang akan diisi oleh air panas, daun pisang, bahan-bahan masakan dan batu panas untuk memasak bahan tersebut. Biasanya, dibutuhkan sekitar dua jam hingga tiga jam untuk memasak bahan-bahan tersebut. Pada saat masakan sudah matang, Kepala Suku menjadi orang pertama yang akan menikmati hidangan tradisional asli ritual bakar batu tersebut. Setelah mereka selesai menkonsumsi makanan hingga habis, mereka akan menari bersama dengan alunan lagu daerah yang berjudul Weya Rabo dan Besek.

Dikarenakan modernisasi dan pengembangan daerah setempat, daripada memburu hewan, warga memilih untuk mengumpulkan dana agar mereka bisa membeli daging Babi untuk acara tersebut. Hal ini dikarenakan mahalnya harga daging di daerah Papua, sehingga terkadang ritual ini tidak sering dilakukan oleh warga setempat.