RMS Menjadi Jalan Lahirnya Baret Merah (Kopassus)
Prajurit satuan elite Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. (Foto: Pen Kopassus)

RMS Menjadi Jalan Lahirnya Baret Merah (Kopassus) – Sekelompok pasukan dengan topi baret merah, bertelanjang dada, dan kulit legam terbakar matahari memegang senjata sedang berlarian di dalam sebuah hutan. Coretan tinta hitam pada wajah mereka dengan mata yang menyala makin menambah kesan seram ketika yel-yel dipekikkan saat mereka berhasil keluar dari hutan.

Itulah gambaran yang bisa kita saksikan dari betapa beratnya pelatihan anggota khusus yang menjadi kebanggan TNI Angkatan Darat kita. Kopassus, Komando Pasukan Khusus. Ciri khas baret merah dengan sejumlah keahlian fisik, baik di darat, laut, maupun udara, menjadi kunci keberhasilan mereka dalam misi-misi ketentaraan kita.

Kopassus merupakan pasukan elit yang beranggotakan TNI AD pilihan. Beratnya ujian baik fisik maupun mental dan pengetahuan, menjadikan pasukan ini sulit untuk dimasuki. Banyak yang melamar menjadi anggota Kopassus, namun gagal.

RMS, Kesko TT dan Idjon Djanbi, Cikal Bakal Kopassus

Sejumlah tugas berat berhasil ditangani oleh Kopassus. Antara lain, operasi penumpasan DI/TII, PRRI/Permesta, dan sejumlah operasi lainnya yang membutuhkan keahlian khusus. Awal berdirinya pasukan ini, adalah ketika gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1952 mulai menydutkan tentara Indonesia.

Kolonel A.E. Kawilarang, yang memimpin pasukan untuk memberantas RMS merasa kesulitan dengan pergerakan RMS yang begitu taktis dan gerilya di Maluku. Atas kesulitan inilah ide untuk mendirikan sebuah pasukan komando yang dapat bergerak cepat dan tangkas lahir.

Direkrutlah seorang mantan prajurit Inggris yang bernama Idjon Djanbi (Kapten Rokus Bernardus Visser) untuk kemudian melakukan perekrutan dan seleksi terhadap anggota dari pasukan khusus ini. Pada tanggal 16 April 1952, lahirlah Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko TT) yang menjadi cikal bakal dari Kopassus.

Peralihan Pasukan, Peralihan Nama, Keahlian yang Tak Berubah

Setelah berdirinya Kesko TT, kemudian dalam perjalanannya, komando pasukan ini terus berganti nama setelah diambil alih oleh Markas Besar ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, atau TNI).

Baca Juga : Child Free Itu Pilihan, Tanggung Jawab Terhadap Anak Itu Kewajiban

Pada tanggal 18 Maret 1953, Kesko TT kemudian diubah menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD). KKAD kemudian ditingkatkan menjadi sebuah resimen yang dinamakan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

RPKAD yang masih dipimpin oleh Idjon Djanbi hingga digantikan oleh Mayor RE Djailani, kemudian diubah kembali menjadi Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus AD) pada tanggal 12 Desember 1966. Pada tanggal 26 Desember 1986 lah, nama Komando Pasukan Khusus atau Kopassus yang kita kenal sebagai pasukan baret merah dikukuhkan.

Jumlah personel Kopassus tidaklah banyak. Efektivitas dari seorang anggota Kopassus yang disetarakan dengan beberapa anggota TNI lainnya, membuat mereka dilibatkan dalam sebuah misi dengan jumlah yang sedikit.

Namun, nama Kopassus pada era Orde Baru memang tercoreng dengan sejumlah misi yang dituding sebagai pelanggaran terhadap HAM. Dan yang paling santer menjadi polemik adalah sejumlah penculikan aktivis pro demokrasi yang dilakukan oleh Tim Mawar Kopassus. Hal ini hingga kini masih menjadi misteri.