Rumah Sakit Terapung di Teluk Bintuni, Papua Barat
beritapapua.id - Rumah Sakit Terapung di Teluk Bintuni, Papua Barat - Okezone

Menengok Rumah Sakit Terapung di Teluk Bintuni, Papua Barat – “RS Apung melayani penyakit ringan dari batuk dan pilek sampai yang berat,” ujar Dr. Eka W. Suradji, Phd, Direktur Utama RSUD Kabupaten Teluk Bintuni.

Fasilitas kesehatan menjadi buah bibir akhir-akhir ini. Di tengah wabah corona yang mendunia, sektor kesehatan menjadi garda terdepan untuk mengusir virus tersebut. Sejumlah upaya dilakukan oleh pemerintah dan segenap masyarakat untuk memperkuat kekuatan kesehatan di lingkungan mereka. Tak hanya berkarya membuat alat pelindung kesehatan secara mandiri, bahkan mall pun disulap jadi rumah sakit.

Berbicara soal fasilitas kesehatan, Teluk Bintuni, Papua Barat memiliki cara sendiri untuk menstimulasi sektor kesehatan. Sebagai masyarakat teluk, akses masyarakat pulau terhadap kesehatan minim. Untuk itu, pemerintah memiliki cara sendiri untuk beradaptasi dengan lingkungan. Salah satunya dengan rumah sakit terapung, yakni rumah sakit dalam bentuk kapal yang tugasnya berkeliling layaknya ambulan untuk menjangkau masyarakatnya.

Rumah sakit tersebut termasuk dalam program Rumah Sakit Masuk Kampung (Rampung), yang bertujuan untuk memenuhi kesehatan masyarakat Bintuni secara gratis. Dokter datang ke tengah masyarakat pedalaman dan memberikan pelayanan secara cuma-cuma. Jika menemukan pasien yang membutuhkan perawatan khusus, maka pasien akan dibawa ke RSUD Bintuni.

Dr. Eka W. Suradji, Phd, selaku Direktur Utama RSUD Kabupaten Teluk Bintuni mengatakan bahwa rumah sakit apung direncanakan akan bekerja dalam waktu 2 bulan dua kali, atau dalam satu bulan satu kali. Satu kali perjalanan rumah sakit apung memakan waktu 5 hingga 7 hari. Rumah sakit ini membawa dua orang dokter spesialis, dengan rincian dokter kandungan, tiga perawat, dan dua bidan. Dokter penyakit dalam atau dokter umum kadang ikut dalam perjalanan tersebut.

Dalam satu kali perjalanan, Eka mengatakan bahwa kapal ini memiliki kemampuan jangkauan hingga 10 distrik luar.

Baca Juga: Tiga Anggota Polres Manokwari Mendapat Penghargaan dan KPLB

Fasilitas Rumah Sakit Terapung

Rumah sakit apung dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai. Beberapa fasilitas di antaranya adalah ultrasonografi (USG), ruang tindakan dengan peralatan bedah yang mumpuni, apotek, dan laboratorium yang mampu menyediakan berbagai rapid testing untuk malaria, HIV, sifilis, hepatitis, gula darah, dan kolesterol.

“Kapal apung memang ditujukan untuk mengatasi kegawatan seperti pendarahan atau tensi darah yang turun. Akan tetapi, operasi besar sebisa mungkin tidak dilakukan di rumah sakit apung. Pasalnya di samping belum adanya peralatan anestesi di kapal ini, rumah sakit apung sangat dipengaruhi oleh ombak yang pasang surut,” papar Satrya, dokter umum.

Melihat kemampuan serta fasilitasnya, rumah sakit apung ini terbentur biaya perawatan yang cukup besar. Rumah sakit yang mulai beroperasi tahun 2018 itu butuh lima ton bahan bakar dalam satu kali perjalanan. Hal ini yang kemudian menjadi permasalahan utama dalam menjaga keberlanjutan dari rumah sakit apung ini.