Rusuh Minneapolis, Jejak “White Supremacist” Yang Berulang
beritapapua.id - Rusuh Minneapolis, Jejak “White Supremacist” Yang Berulang - CNN

Rusuh Minneapolis, Jejak “White Supremacist” Yang Berulang – Kebrutalan aparat kepolisian berdasarkan sentimen ras di Amerika Serikat telah dimulai sejak masa pasca perbudakan pada tahun 1865. Sejak saat itu, masyarakat berkulit hitam di Amerika Serikat kerap mendapat perlakukan tidak adil, represi dari aparat maupun masyarakat sipil.

Banyak tokoh yang kemudian lahir dari masa yang disebut sebagai Gerakan Hak-Hak Sipil di Amerika Serikat ini. Rossa Parks, Martin Luther King, Jr, Malcolm X merupakan tokoh yang menjadi tonggak dari perlawanan warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Opresi, Represi hingga segregasi merupakan wajah Amerika pada masa-masa tersebut. Perjuangan tokoh gerakan hak sipil ini banyak menarik simpati dari orang kulit putih, yang kemudian ikut turun bersama melakukan protes.

Peristiwa bersejarah yang menjadi puncak perlawanan warga kulit hitam pada saat itu adalah “March on Washington” pada bulan Agustus 1963. Martin Luther King Jr dan organisasinya berhasil mengumpulkan 250.000 massa di depan Lincoln Memorial, di Washington, D.C, Amerika Serikat. Hari itu, Martin Luther King, Jr, menyampaikan pidatonya yang menjadi ikon perlawanan isu rasialisme, yaitu “I Have A Dream”.

Pidato tersebut menceritakan tentang mimpi Dr. King (Panggilan Martin Luther King, Jr–Red) yang melihat sebuah utopia, dimana anak-anak berkulit hitam dan putih bisa hidup bersama dalam harmoni.

Pada masa ini, pencapaian terpenting adalah lahirnya Undang-Undang Hak Sipil pada tahun 1964 yang melarang dikriminasi berdasarkan “ras, warna kulit, agama maupun asal-usul bangsa”.

Tidak ada lagi segregasi, tidak ada lagi perbedaan, tidak ada lagi ras superior. Warga kulit hitam amerika yang lazim disebut African American mendapatkan hak-hak sipilnya termasuk hak untuk memilih yang dituangkan dalam Undang-Undang Hak Pilih pada tahun 1965.

Baca Juga: Rich Brian Keluarkan Single Terbaru ‘Love In My Pocket’

Perjuangan Belum Berakhir

White Supremacist – Meskipun hak-hak sebagai warga sipil telah dikembalikan kepada African American, namun diskriminasi masih terus mewarnai kehidupan mereka. Represi aparat berdasarkan sentimen masih terus terjadi.

Stereotype African American sebagai kriminal masih diterima oleh mereka. Racial slurs–umpatan2 rasis, masih kerap diterima. Kini bukan hanya African American saja yang menjadi sasaran dari orang-orang kulit putih. Namun seluruh warga non-bule, termasuk Asian dan Mexican.

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 semakin memperparah rasialisme di Amerika Serikat. Politik identitas yang dimainkan begitu gamblang, memantik munculnya komunitas-komunitas fasis di sana. Klu Klux Klan, sebuah kelompok rasis ekstrem yang dibentuk pada tahun 1865 pun mulai berani muncul kembali. Kelompok yang telah dinyatakan sebagai terlarang ini menampakkan diri dengan tetap mengusung isu yang sama “White Supremacist”.

Kekerasan yang menimpa warga kulit hitam di Amerika Serikat ini kemudian memunculkan gerakan baru. Black Lives Matter–Nyawa Orang Kulit Hitam Itu Penting (BLM).

Gerakan yang bermula dari tertembaknya Trayvon Martin tanpa alasan yang jelas pada 2012 ini mendapat simpati secara global. Apalagi di era media sosial yang begitu masif meruakkan pesan di dunia. Alicia Garza, Patrisse Cullors dan Opal Tometi, pemrakarsa dan penggerak BLM ingin agar gerakan ini menjadi isu global. Kekerasan terhadap warga berkulit hitam di Amerika Serikat kian mencemaskan.

Beberapa hari lalu, sebuah video yang begitu grafik dengan kekerasan beredar di media-media sosial. George Floyd, seorang lelaki berkulit hitam diamankan pihak kepolisian dengan excessive force (penggunaan kekerasan yang berlebihan).

Floyd terlihat diinjak lehernya oleh seorang aparat kepolisian hingga tidak bisa bernafas dan meninggal di tempat. Brutalitas yang ditunjukkan oleh kepolisian hanya karena Floyd mencoba menggunakan uang palsu untuk membayar di sebuah toko.

Peristiwa ini membakar kemarahan masyarakat. Protes besar-besaran pun dilakukan, hingga keadaan menjadi tak terkendali di Minneapolis, Amerika Serikat. Tagar #BlackLivesMatter kini diimbuhi dengan #NoJusticeNoPeace (tidak ada kedamaian jika tidak ada keadilan).

Protes yang berubah menjadi kerusuhan ini tak terkendali. Bangunan-bangunan dijarah dan dibakar. Protes ini sebagai penanda kemuakan orang Amerika Serikat terhadap kekerasan serta perisakan yang kerap diterima oleh warga berkulit hitam.

Perjuangan belum berakhir selama fasisme terus dipelihara sebagai media untuk melacurkan kepentingan politik. #BlackLivesMatter.