Sabar Sebagai Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Sabar Sebagai Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Sabar Sebagai Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat – Kita mengetahui bahwa rukun iman ada lima. Antara lain iman kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab Allah, kepada rasul, kepada hari akhir dan iman kepada takdir. Namun tahukah Anda? Tanpa sebuah sifat, rukun iman akan berantakan. Sifat apakah itu?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 45 dan 46,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ {45} الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

ibnu Katsir rahimahullah, dalam Tafsir al Qur`ani al ‘Azhim, mengatkan bahwa sabar dan salat adalah kunci. Untuk meraih seluruh kebaikan dunia dan akhirat, sabar dan salat menjadi batu pijakan untuk meraihnya.

Ini menempatkan sifat sabar sebagai sifat yang sangat terpuji dalam Islam. Dengan sabar, maka seorang muslim dapat menjalankan rukun iman dengan baik. Terlebih, Allah menjanjikan kebaikan dunia bagi mereka yang bersabar.

Ini yang menyebabkan sabar sebagai kunci kebahagiaan hidup seorang muslim.

Lantas, apa itu sabar?

Sabar Sebagai Kunci Pilar Iman

Baca juga: Dua Sisi Sabar, Bersyukur dan Menahan Diri

Lantas, kita bertanya, yang seperti apa yang dapat menjadi pilar iman seorang muslim? Untuk itu, kita perlu memahami terlebih dahulu makna sabar. Abu Ismail al Harawi dalam Kitab Manazil As Sairin menyebut sabar adalah menahan diri.

Lebih dalam, Astaz M. Abduh Tuasikal dalam rumaysho, menjelaskan bahwa sabar itu ada 3 macam. Antara lain sabar dalam ketaatan, sabar dalam hal yang diharamkan, dan sabar dalam musibah.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imron: 200).

Ibadah kepada Allah memerlukan kesabaran yang kuat. Menjalankan rukun iman perlu kesabaran. Hal itu dapat berbentuk dalam ketaatan ibadah seperti bangun malam untuk salat malam, kemudian lanjut dengan ibadah salat subuh. Istiqamah membaca Alquran demi khatam setiap bulan. Semua bentuk mengimani rukun Iman yang membutuhkan kesabaran.

Tidak tanggung-tanggung, sabar dalam ibadah harus bertahan hingga akhir hayat. Begitu juga sabar dalam menahan diri dari perbuatan maksiat. Ibadah dan maksiat adalah dua hal yang berlawanan. Kita tidak dapat merasakan nikmatnya beribadah jika tidak menjauhi maksiat.

Tidak melakukan maksiat pun butuh kesabaran. Bagi mereka yang gemar mabuk, sungguh berat untuk tidak mabuk. Begitu juga zina dan maksiat lainnya. Maka, sabar sebagai kuncinya.

Hal serupa juga berlaku ketika kita mendapatkan musibah. Sabar ketika mendapat musibah dapat berbentuk dalam rasa syukur dan tidak mengeluh. Ini bentuk dari rukun iman, yakni iman kepada qada dan qadar.

Bahwa tidak ada musibah yang datang kecuali tanpa izin Allah subhanahu wa ta’a. Bersabar pada ketetapan musibah pun merupakan bentuk mengimani rukun iman. Oleh karenanya, sabar adalah pilar keimanan seorang muslim.

Tanpa sabar, maka kebaikan dunia dan akhirat tak dapat tercapai. Jadi, sabar sebagai kunci kebahagiaan.