Sanggar Anak Alam untuk Kemandirian Pendidikan
Beritapapua.id - Sanggar Anak Alam untuk Kemandirian Pendidikan - Salam Yogyakarta

Sanggar Anak Alam untuk Kemandirian Pendidikan – Hal apa yang pertama kali terlintas ketika kamu membaca atau mendengar sesuatu tentang sekolah ? Seragam dan teman-teman sekolah mungkin menjadi salah satu hal yang tidak bisa absen dan hilang dari kata-kata sekolah. Deretan berbagai macam pelajaran dan juga guru-guru yang selalu kita temui sehari-hari. Namun, semua hal yang kita sebutkan tadi mungkin tidak berlaku bagi murid-murid yang bersekolah pada SALAM Yogyakarta.

SALAM merupakan sekolah yang didirikan di tengah area persawahan di daerah Nitiprayan, Yogyakarta. Tidak seperti sekolah pada umumnya yang kita temui dengan bangunan cukup luas dan memiliki banyak ruangan serta terkesan sangat formal. Sekolah ini justru membalik tatanan pendidikan yang selama ini kita tahu.

Baca Juga: UWRF, Festival Literasi Terbesar Asia Tenggara

Sri Wahyaningsih Pendiri Sanggar Anak Alam

"<yoastmark

Sri Wahyaningsih akrab dengan sapaan Wahya, pendiri SALAM memulai sekolah ini pada tahun 2000 lalu dengan kurikulum yang berbeda, yaitu berbasis riset. Jika pada sekolah formal, tiap semester anak-anak wajib mengikuti 8-10 mata pelajaran. Di SALAM mereka memilih sendiri topik riset mereka, baru mengembangkan risetnya ke pengetahuan lain.

Nane misalnya, dari riset soal obat herbal, ia jadi harus belajar juga soal jenis tanaman herbal, cara bertanam, sakit-penyakit, metode pengobatan, industri obat-obatan, bahkan soal roda ekonomi yang bergulir terkait isu soal obat-obatan. Dari satu topik, pengetahuan meluas meliputi berbagai macam hal.

Anak-anak dilatih untuk bisa kritis dan menemukan apa yang ingin ia pelajari dan butuhkan. Tidak seperti sekolah pada umumnya yang cenderung “menyetir” dan mendikte tentang kebutuhan murid. SALAM mengajarkan daln melatih anak-anak untuk mandiri dalam menemukan apa yang meraka cari dengan bantuan fasilitator yang mengajarkan mereka.

Menurut pendirinya, dengan riset, anak-anak jadi punya pemikiran kritis dan punya solusi. Karena mereka memilih sendiri topiknya, jadi tidak ada pemaksaan. Bahkan banyak dari mereka yang sudah punya penghasilan sendiri, karena tak jarang produk hasil riset mereka bisa langsung terjual. SALAM juga punya kegiatan bernama Pasar Legi dan Pasar Ekspresi yang mana siswa-siswanya boleh menjual produk hasil buatan mereka sendiri.

SALAM menganggap mata pelajaran sekolah formal justru seperti kotak yang membatasi insting eksplorasi siswa. Tak cukup dengan pemberian batas, siswa harus memenuhi beban nilai yang sangat berat. Menelan ilmu-ilmu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.