Satbrimob Papua Tegaskan Menjaga Keselamatan Victor Yeimo
beritapapua.id - Personel Satgas Nemangkawi tengah melakukan pengamanan di Lapangan Terbang Beoga, Puncak, Papua, Kamis (15/4/2021) (dok Humas Satgas Nemangkawi)

Wakil Komandan Satuan Brigade Mobil atau Satbrimob Kepolisian Papua, Ajun Komisaris Besar Soeroso menegaskan pihaknya berkomitmen menjaga kesehatan dan keselamatan Victor Yeimo. Hal itu Soeroso sampaikan saat berada di Kota Jayapura, pada Selasa (18/5/2021).

“Tugas kami terhadap saudara Victor Yeimo adalah menjaga kesehatannya, juga menjaga keselamatan dia selama ada di sini. Itu komitmen utama kami. Kami bertanggungjawab atas kesehatannya,” ujar Soeroso.

Soeroso menyatakan pihaknya memperlakukan Victor Yeimo dengan baik, termasuk memberinya kesempatan untuk berjemur setiap pagi, mandi secara rutin, dan memberi tempat tidur yang layak. “Hampir tiap pagi kami dampingi dia untuk jemur badan pada matahari hari. Itu tugas kami, jadi semuanya jangan khawatir dengan keberadaan saudara Victor di sini. Dia aman,” katanya.

Victor Yeimo Jadi Tahanan Polda Papua

Soeroso menyatakan Victor Yeimo yang polisi tangkap dari Satuan Tugas Nemangkawi pada 9 Mei 2021 lalu berstatus tahanan Kepolisian Daerah (Polda) Papua.

“Dia memang tahanan Polda. Nah, untuk soal makan dan minum itu jadi tanggungan Polda, melalui (Direktorat) Reserse Kriminal. Mereka yang biasa antar (makanan) ke sini,” ujarnya.

Baca Juga : Gubernur PB Mandacan Berikan Laporan Kasus Covid-19 ke Presiden

Sementara itu, Victor Yeimo membenarkan ia menerima perlakuan yang baik di dalam tahanan. Yeimo menyatakan hanya keberatan atas dua hal, yaitu makanan yang penyidik bawa Polda Papua tidak layak untuk ia konsumsi, dan merasa kesepian karena seorang diri di dalam tahanan.

“Makanan itu biasa diantar oleh Polda, tapi saya kira tidak layak saya makan. Nasi itu keras, dan dicampur dengan sambal yang pedas. Saya ada riwayat penyakit maag, kalau saya makan itu, terasa sakit sekali” ungkap Yeimo.

Menurutnya, ditahan seorang diri di Markas Satbrimob Daerah Papua membuatnya kesepian.

“Saya juga kadang hampir stress, karena rumah tahanan itu besar, tapi isinya cuma saya seorang diri. Tak ada teman yang ajak cerita-cerita. Seolah-olah tembok itu jadi teman. Jika memang ada tahanan lain di tahanan Polda bisa pindahkan ke sini, supaya ada teman cerita untuk hilangkan kebosanan,” kata dia.