Sejarah Konflik Israel - Palestina Fase Yunani dan Masehi
beritapapua.id - Peluncuran roket dari jalur gaza yang dilakukan oleh Hamas dan dihadang oleh Iron Dome Israel (foto : Getty images)

Konflik Israel – Palestina semakin memanas. Tetapi bagaimana awal mula konflik tersebut dimulai dan mengapa perdamain belum tercapai. Berikut pemaparan Konflik Israel – Palestina pada fase Yunani dan Masehi.

Bani Israel yang dahulunya menempati Tanah Kanaan pada era Israel Kuno, kala itu harus kembali menghadapi situasi konflik teritori ketika kekaisaran-kekaisaran baru muncul di Timur Tengah.

Setelah Kerajaan Israel terakhir yang runtuh dalam penguasaan Kerajaan Babilonia Baru pada tahun 587 SM, banyak dari suku Bani Israel yang melarikan diri atau menjadi tawanan.

Migrasi besar-besaran terjadi, mereka berpencar ke negara-negara tetangga, yang mengakibatkan pada era ini dari 12 suku Bani Israel, hanya tersisa 2 saja.

Dengan hilangnya identitas tanah air, di tempat baru, orang-orang lebih mengenal mereka sebagai Kaum Yahudi, kaum imigran. Itulah kenapa, orang-orang Yahudi hingga kini tersebar di mana-mana terutama Eropa dan Amerika Serikat.

Pada saat Babilonia Baru secara penuh menguasai Yehuda (ibu kota Kerajaan Israel) pada 587 SM, negeri itu nyaris tanpa penduduk dari Bani Israel sama sekali.

Kemudian ketika Kerajaan Ahemeniyah, dari Persia, menyerang dan mengalahkan Babilonia, barulah pada 538 SM, Kaisar Akhemeniyah, Koresy Agung mengizinkan Bani Israel untuk kembali ke Palestina.

Munculnya kekaisaran-kekaisaran baru pada era ini, menjadikan tanah Kanaan sebagai wilayah yang selalu diperebutkan. Lokasi dalam peta kuno yang tepat berada di tengah, menjadikannya strategis.

Palestina Dikuasai Yunani

Wilayah Yudea di bawah kekuasaan Akhemeniyah hanya berupa wilayah otonom yang kecil saja. Kemudian secara silih berganti kerajaan-kerajaan Yunani kecil menguasai kawasan ini dengan menyingkirkan Akhemeniyah.

Barulah pada 301 SM, wilayah Yehuda atau Yudea dikuasai oleh Kekaisaran Makedonia, Yunani, dengan cara mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil dalam unifikasi Kekaisaran di bawah Filipos II (359 SM – 336 SM).

Kekaisaran Makedonia, menguasai seluruh Yunani dan wilayah jajahannya pada saat itu. Di bawah pimpinan Aleksander III (putra dari Flipos), Makedonia merupakan kerajaan yang menjadi pusat peradaban dunia kala itu.

Wilayah demi wilayah mereka taklukkan, ini menjadikan kekuasaan Makedonia terbentang dari Yunani hingga Turki.

Kekuasaan Makedonia berlangsung cukup lama. Dengan penguasaan penuh, mereka pun mendoktrin bangsa-bangsa di bawah kekuasaanya dengan kultur dan kebiasaan Yunani.

Proses infiltrasi budaya ini mereka sebut sebagai Helenisasi. Inilah juga yang menyebabkan banyak sekali Kaum Yahudi fasih berbahasa Yunani.

Bani Israel Memberontak : Dirikan Dinasti di Palestina

Bani Israel yang merupakan turunan dari Yaqub, cucu Nabi Ibrahim, As, merupakan kaum yang teguh dengan ke-Yahudiannya. Terjadinya Helenisasi membuat mereka merasa kehilangan jati diri.

Itulah kenapa, pada tahun 167 – 160 SM mereka terjadilah Pemberontakan Makabe oleh kaum Yahudi, dan mereka berhasil mengusir Yunani dari tanah Israel.

Baca Juga : Fakta Gizi Alpukat, Buah Super yang Kaya Protein

Setelah hengkangnya Yunani, kaum Yahudi kemudian mendirikan Dinasti yang bernama Hashmonayim, dengan Simon Makabe sebagai pemimpin yang terpilih.

Dinasti ini menjadi pusat pemerintahan Yahudi di Palestina atau Tanah Israel selama 103 tahun, sebelum akhirnya harus tunduk sepenuhnya pada kekuasaan Republik Romawi.

Romawi menguasai sepenuhnya wilayah Kanaan termasuk Palestina di dalamnya. Untuk itu, mereka menunjuk Herodes, dari Idumea sebagai Raja yang memerintah.

Herodes adalah seorang Yahudi yang bukan asli keturunan Yaqub. Ia lahir di Idumea, yang menjadi bagian dari kekuasaan Yahudi kala itu, dan mendapatkan status ke-Yahudian-nya dari status kaum yang berkuasa.

Kelahiran Yesus, Sang Yahudi Pemberontak – Sebuah Babak Baru Bani Israel

Romawi di bawah pemerintahan Herodes merupakan cerita yang secara utuh, menjadi bagian awal dari kelahiran Nabi Isa Al-Masih di dalam Al-Quran atau Yesus Kristus bagi umat Kristiani.

Yesus yang merupakan orang Yahudi dari keturunan Daud, lahir sebagai pembangkang, baik terhadap Pemerintahan Romawi, maupun ajaran Yudaisme beserta imam-imam besar kala itu.

Pemerintahan Romawi pada tahun masehi yang menguasai sepenuhnya umat Yahudi, merupakan era kolonialisasi yang begitu menindas rakyatnya dengan sistem perpajakan yang besar.

Ini semua karena ambisi Kaisar Augustus yang ingin meluaskan kekuasaan Romawi, tentu membutuhkan biaya perang yang besar. Oleh karena itu, negara-negara jajahannya dibebani dengan pajak yang berkali-kali pungutannya.

Pajak dan Imam Besar Yahudi yang Korup

Akibat kebijakan ini, umat Yahudi di Palestina menjadi hidup berkesusahan. Selain pajak kepada pemerintah, mereka juga harus membayar pajak keagamaan kepada para Imam Besar Yahudi, juga upeti kepada pemerintahan lokal.

Semakin lama, pajak kaisar melalui raja wilayah semakin besar, karena kebutuhan negara yang naik secara signifikan.

Penyebabnya bukan hanya kebutuhan perang, namun juga gaya hidup para aristokrat serta petinggi pemerintahan yang begitu mewah.

Baca Juga : Ulasan Lengkap : Sejarah Konflik Israel – Palestina

Oleh karena itu, imam-imam besar Yahudi menjadi resah. Pendapatan mereka dari pajak keagamaan, semakin hari semakin berkurang, upeti yang seharusny masuk ke kuil, habis oleh negara.

Ini menyebabkan pendapatan kuil-kuil Yahudi semakin terkuras, gaya hidup mapan imam besar Yahudi terancam.

Yesus Sang Mesias Disingkirkan Imam Besar Yahudi

Di samping itu, kehadiran Yesus dengan ajaran barunya semakin menambah kekalutan di kalangan mereka kala itu.

Yesus atau Yesua menjadi sosok yang menarik simpati rakyat, yang hidup dalam penindasan. Ia dalam ajarannya selalu meninggikan kaum papa, makanya dalam waktu singkat, ia mampu mengajak ribuan orang sebagai pengikutNya.

Para imam besar Yahudi kemudian mulai berkomplot untuk menyingkirkan Yesus. Kebetulan saat itu, para pengikut Yesus menyebutnya sebagai Raja Orang Yahudi dari Nazareth.

Mereka secara diam-diam kemudian berkumpul pada kuil besar, dan bersama-sama melaporkan ini sebagai upaya makar Yesus kepada Raja Herodes.

Herodes yang memang merupakan pemimpin lokal yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan keruntuhan kerajaannya, lalu menyambut laporan ini dengan senang hati.

Setelah  melalui pengadilan singkat, dengan para imam besar Yahudi sebagai jurinya, mereka sepakat, Yesus harus mati di kayu salib.

Bani Israel Kembali Terusir dari Palestina

Sepeninggalnya Yesus, keadan semakin buruk di Palestina di bawah pemerintahan Romawi. Pajak yang semakin tidak masuk akal dan penindasan di bawah kekuasaan kaisar yang menggila, membuat banyak sekali orang Yahudi kembali melakukan migrasi, atau hijrah ke nagara-negara tetangga.

Ini merupakan hijrah besar-besaran Yahudi yang kedua atas inisiatif sendiri. Populasi mereka semakin berkurang di Palestina. Kaum Yahudi kembali kehilangan tanah air atau Tanah Israel.

Kaum Yahudi semakin tak mempunyai identitas, Erret Israel (tanah perjanjian) semakin jauh dari penglihatan.

Fase Daulah Islamiah

Kemudian pada tahun 638, pada era Daulah Islamiah, Umar Bin Khattab menyerang Yerusalem dan merebut kekuasaan penuh dari Romawi.

Ummar Bin Khattab kemudian menyatakan Yerusalem sebagai kota suci tiga agama (Islam, Kristen, Yahudi). Ia pun kemudian mempersilahkan orang Yahudi untuk kembali ke tanah mereka.

Namun, kepulangan mereka ke Palestina adalah dengan satu syarat. Yang adalah mereka harus hidup berdampingan dengan penduduk lain yang beragama Kristen dan Islam.

Namun rupanya ini masih menjadi kendala dan penyebab konflik Israel-Palestina pada fase Daulah Islamiah dan Kekhilafahan Utsmani.