Sejarah Sepeda, Gunung Tambora dan Pramoedya
Sejarah Sepeda, Gunung Tambora dan Pramoedya

Sejarah Sepeda, Gunung Tambora dan Pramoedya – “Di depan saya ada… apa itu? Ya Allah, sang Velocipede, sang sepeda, sang kereta angin! Empat orang Eropa sedang berpegang-pegangan bahu dalam banjar melintang di jalanan… Ini yang dinamai kereta angin… Kencang, cepat seperti angin… Lari secepat kuda. Tidak perlu rumput. Tidak perlu kandang… Lebih nyaman daripada kuda… kendaraan ini tidak pernah kentut, tidak butuh minum, tidak buang kotoran.”

“Ini yang dinamai kereta-angin, Tuan-tuan, Velocipede. Bikinan Jerman sejati. Kencang, cepat seperti angin. Sang angin juga yang punya urusan, maka penumpangnya tidak jatuh. Duduk aman di sadel, kaki sedikit berayun.”

Dua paragraf di atas merupakan penggalan dari novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Anak Semua Bangsa. Paling tidak, itu merupakan penggalan kalimat yang digunakan oleh Pramoedya untuk mengungkapkan kekagumannya terhadap sepeda.

Sepeda pada saat ini sedang menjadi tren di Indonesia. Seperti yang kami lansir dari kelaspintar.id, pesepeda di Jakarta pada tahun 2020, berdasarkan data Institute for Transportation and Development Policy, meningkat 10 kali lipat dibandingkan tahun 2019.

Sepeda awalnya merupakan moda transportasi yang ditemukan oleh Friedrich Karl von Drais. Seorang pejabat kehutanan dari Jerman, yang lahir pada 29 April 1785. Prinsip kendaraan roda dua yang disebut velocipede ini awalnya diciptakan oleh Friedrich tanpa pedal dan terbuat keseluruhan dari kayu.

Letusan Gunung Tambora Menjadi Sejarah Diciptakan Sepeda?

Baca juga: Larangan Bertato, Stigma yang Menjadi Aturan Tak Baku

Diciptakannya sepeda, juga tak lepas dari peristiwa meletusnya gunung Tambora pada tahun 1815. Seperti yang dilansir dari historia, wartawan Mick Hammer menulis, letusan gunung Tambora yang mengakibatkan sebagian wilayah bumi tertutup abu vulkanik mengakibatkan hampir keseluruhan dunia mengalami masa-masa buruk, terutama di Eropa.

Kuda yang kala itu menjadi moda transportasi utama, banyak yang mati disembelih karena kondisi ini. Dari sini lah ide untuk membuat sepeda muncul oleh Friedrich, pada tahun 1817. Sepeda yang diciptakan oleh Friedrich merupakan alat transportasi yang revolusioner, namun masih belum sempurna.

Kemudian pada tahun 1839, Kirkpatrick Macmillan, seorang pandai besi dari Skotlandia menyempurnakan inovasi Friedrich ini dengan menambahkan pedal dan engkol yang menggerakkan roda depan. Berselang puluhan tahun kemudian, pada tahun 1888, barulah disempurnakan sepeda seperti yang kita temukan dalam keseharian, sepeda dengan menggunakan ban angin oleh John Boyd Dunlop.