Sejarah Suku Sumuri di Teluk Bintuni
beritapapua.id - Sejarah Suku Sumuri di Teluk Bintuni - Topik Papua

Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, menaungi 28 distrik yang dihuni oleh 7 suku, antara lain Suku Sebyar, Moskona, Sough, Irarutu, Kuri, Wamesa, dan Sumuri. Meski memiliki keragaman suku, Kini, kabupaten tersebut merupakan salah satu kabupaten paling aman. Salah satu suku yang memiliki keragaman masyarakatnya, adalah Suku Sumuri.

Sebelum disebut sebagai Distrik Sumuri, wilayah tersebut merupakan daerah persinggahan orang-orang Sumuri yang tersebar di Teluk Bintuni. Dahulu, wilayah tersebut disebut dengan nama Tofoi. Sebutan Sumuri pada masyarakat di sana merupakan nama yang diambil dari daratan Imuri di Kelapa Dua yang artinya air panas.

Nama Imuri sendiri diambil dari kisah nenek moyang Siwana yang memasak air dengan menggunakan bambu di sekitar dermaga di Kelapa Dua. Berdasarkan sumber yang lain, sebutan Sumuri sebagai warga yang tinggal di Imuri berasal dari nama lain Sumur, yakni Saengga. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat yang tinggal di sana lebih senang disebut sebagai Suku Sumuri.

Baca Juga: Mengetahui Orang Asli Papua

Suku Sumuri Penduduk Wilayah Tofoi

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, wilayah Tofoi merupakan tempat persinggahan warga yang berasal dari berbagai tempat di Teluk Bintuni. Mengacu pada artikel jurnal yang ditulis oleh I Ngurah Suryawan, seorang mahasiswa Universitas Papua, orang-orang Suku Sumuri berasal dari Gunung Nabi di wilayah Kuri, Kaimana, dan Fak-fak.

Para pendatang tersebut kemudian menamakan dirinya sebagai Suku Sumuri setelah mereka bersatu di Tofoi. Dari kelompok besar yang disebut Suku Sumuri tersebut, mereka terbagi ke dalam marga-marga kecil. Diketahui terdapat sekitar 20 marga yang ada di dalam Suku ini. Pembagian tersebut didasari atas jumlah marga dan luas wilayah yang mereka tempati.

Dari 20 marga tersebut, dapat dikategorikan menjadi dua, yakni marga besar dan marga kecil. Marga besar di Suku Sumuri antara lain Fosa, Sodefa, Dorisara, Inanosa, Siwana, Ateta, Agofa, Simuna, Wayuri, dan Masifa. Sedangkan marga kecil Sumuri adalah Muerena, Bayuni, Wamay, Werifa, Dokasi, dan Saba.

Selama kurang lebih dua tahun, sebagian masyarakat Suku Sumuri berpindah tempat. Awal perpindahan besar tersebut diperkirakan mulai pada tahun 1960-an. Kejadian tersebut kerap disebut sebagai perpindahan besar ke wilayah Tanah Merah. Barulah pada tahun 1970-an kampung Suku Sumuri mulai ajeg. Kampung-kampung yang tadinya dipindahkan mulai tertata dengan rapi.