Sekilas Cerita Suku Nayak Lembah Baliem
beritapapua.id - Sekilas Cerita Suku Nayak Lembah Baliem - phinemo.com

Suku bangsa terbanyak yang bermukim dalam satu wilayah bisa kita temukan di timur Indonesia, Papua. Keberagaman dan jumah suku yang mencapai 700 lebih telah diakui oleh dunia. Dari sekian banyak suku bangsa yang ada tersebut, kita mungkin tak banyak tahu mengenai suku-suku yang mendiami wilayah tersebut. Salah satu suku dari Papua yang bermukim di pegunungan tengah adalah suku Nayak.

Suku Nayak menempati wilayah di Lembah Baliem sekitar Kota Wamena ke arah gunung Trikora. Sebagian besar mata pencaharian suku nayak adalah sebagai petani ubi dan keladi. Wilayah mereka menjadi salah satu yag memiliki tanah yang baik untuk digarap sebagai lahan pertanian. Makanan pokok mereka adalah ubi, sayur dan babi. Cara mereka memasak babi adalah dengan ditimbun oleh batu panas.

Semua proses pengolahan makanan yang mereka lakukan masih sangat tradisional, dan tidak menggunakan bahan-bahan yang mereka tidak bisa perolah dari alam sekitar. Serta terdapat pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki memiliki tugas membuatkan pagar, mencari kayu bakar atau berburu, dan membuka hutan menjadi ladang-ladang pertanian. Sedangkan penanaman dan pemeliharaan tanaman, yang lebih memerlukan kepekaan terhadap alam menjadi tugas kaum wanita.

Baca Juga: Legenda Ufiripic dan Anak Perempuannya

Pembagian Tugas Masyarakat Suku Nayak

Pembagian tugas ini juga dapat dilihat dalam pemukiman mereka. Tugas membuka hutan menjadi permukiman, membangun rumah, dan menjaga ketentramannya adalah tugas kaum laki-laki. Sedangkan memelihara hunian seisinya, termasuk “menumbuh-kembangkan” generasi kaum penerus adalah tugas kaum wanita.

Suku Nayak tinggal dalam kelompok-kelompok yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam sebuah usilimo atau sili. Beberapa sili yang berdekatan biasanya memiliki kedekatan hubungan kekerabatan. Kelompok sili yang  yang terbentuk karena hubungan darah atau yang tebentuk atas dasar   persatuan teritorial dan politik membentuk kampung.

Kampung dipimpin oleh seorang Kepala Suku yang didampingi oleh seorang Panglima Perang. Pentingnya kedudukan panglima perang dalam struktur kehidupan masyarakat Nayak menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai gangguan atas ketentraman yang mereka bina dalam lingukungannya. Hal ini karena mereka tinggal di daerah hutan dengan tingkat kerawanan yang tinggi.