Seks Bukan Hanya Persolan Konsen Saja
Ilustrasi seks (foto : detik.com)

Hubungan seks di luar pernikahan pada zaman ini, mungkin sudah menjadi sebuah nilai lumrah. Pergeseran nilai dalam perkembangan tatanan masyarakat memang tidak bisa dihindari. Yang ditekankan dalam sebuah hubungan seksual adalah adanya konsen atau persetujuan dari kedua pihak yang melakukannya.

Hidup berpasangan tanpa adanya sebuah ikatan pernikahan juga sudah hampir menjadi lumrah. Hubungan tanpa status yang pasti antar pasangan ini bukan tanpa risiko hukum. Selain konsekuensi sosial, hubungan seks di luar pernikahan terdapat risiko hamil.

Kehamilan di luar pernikahan masih menjadi nilai yang dianggap aib bagi masyarakat. Meskipun kita hidup di zaman modern, tapi beberapa nilai memang masih tidak bergeser. Seperti ini contohnya.

Selain itu, bagi pihak perempuan, jika terjadi kehamilan di luar pernikahan, ada kemungkinan pihak laki-laki tidak akan mengakui kehamilan tersebut. Mungkin juga, tidak mau bertanggung jawab. Pihak yang selalu rentan terhadap risiko ini adalah perempuan dan anak yang dikandungnya.

Status Hukum Anak Jika Melakukan Seks di Luar Nikah

Lantas bagaimana status hukum dari seorang anak di luar pernikahan? Secara hukum, pihak laki-laki memang tidak bertanggung jawab jika kehamilan itu terjadi di luar pernikahan. Tidak ada konsekuensi hukum yang membebani seorang laki-laki dalam hal ini.

Baca Juga : Parpol Minta KPU Wondama Lebih Teliti Terhadap Data Pemilih PSU

Status keperdataan dari anak yang dilahirkan di luar pernikahan yang sah hanya berada dalam beban ibu kandungnya. Ini berarti, status waris anak hanya bisa mewariskan dari ibu saja. Hal ini diatur di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada Pasal 43 ayat (1), yang berbunyi “Anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.”

Kecuali jika pihak laki-laki di hadapan hukum mengakui anak tersebut sebagai ahli warisnya, barulah pihak anak yang dilahirkan di luar perkawinan mendapatkan hak warisnya. Pengakuan anak di luar pernikahan oleh pihak laki-laki ini melahirkan status hukum baru, yang memberikan sebuah status keperdataan kepada anak tersebut yang menjadi beban dari pihak laki-laki yang menjadi ayah biologisnya.

Hingga kini memang status hukum anak di luar pernikahan masih menjadi ketimpangan. Maka itu, berhati-hatilah dalam menjalin sebuah hubungan. Seks di luar pernikahan mungkin sudah lumrah untuk dilakukan, namun lakukanlah itu dengan segala pertimbangan akan risiko yang akan dihadapi di kemudian hari.