Ibu Nunuk
Selamat Jalan Ibu Nunuk “Indomie”

Ragam kuliner dari berbagai daerah di Indonesia dengan ciri khasnya masing-masing merupakan khazanah yang tidak ada tandingannya di dunia. Lidah yang beragam pun akan lazim dengan cita rasa yang terbiasa dari keunikan setiap kelezatan masakan khas, yang lahir dari budaya dan kebiasaan.

Dari ragam suku dan budaya yang begitu beragam, bukan tidak mungkin lidah kita akan merasa aneh dengan masakan yang berasal dari daerah yang sama sekali lain corak budaya dan kebiasaan. Contohnya, orang Timur yang nyaman dengan masakan yang cenderung asin, akan sulit menerima masakan Jawa Tengah, atau Yogyakarta dalam hal ini, yang cenderung manis. Begitu pula sebaliknya. Tapi itu masalah budaya dan kebiasan. Namun, kira-kira ada satu makanan yang bisa menyatukan hampir keseluruhan lidah orang Indonesia?

Salah satu jawaban yang mungkin tak terbantahkan adalah Mie Instan, dengan merk yang sudah lazim bagi telinga maupun lidah kita: “Indomie”. Begitu populernya Indomie, bukan tidak mungkin di hampir setiap rumah, pasti ada stok mie instan dengan merk ini, dengan berbagai varian.

Kenangan Masa “Ngekos”

Baca juga: Solusi Banyak Pikiran dari Agama Islam untuk Kamu

Indomie begitu lekat dengan masyarakat Indonesia, sampai-sampai mie instan ini sudah menjadi entitas, terutama bagi mahasiswa dan pelajar. Begitu gandrungnya kita dengan produk ini, bahkan di kalangan diaspora, Indomie merupakan produk yang selalu dicari.

Kita bisa menikmati Indomie dengan beragam cara, sesuai selera. Indomie goreng salah satunya merupakan varian dari produk mie instan yang hampir pasti selalu menemani. Entah dibuat dengan telur, ditambah sayuran, ada juga yang hanya ingin menikmati varian ini tanpa embel-embel pendamping. Atau bagi yang bernafsu makan besar, bisa menambah nasi sebagai pendamping, kita menyebutnya “carbohydrate galore”.

Berbagai kenangan itu, masih bisa kita nikmati hingga saat ini, berkat dinginnya tangan dari “sang pencipta bumbu Indomie goreng”. Ialah, Ibu Nunuk Nuraini. Beliau merupakan pahlawan bagi kami. Pahlawan bagi “Kaum Kaliran” di tengah malam, pahlawan bagi lidah-lidah yang ingin dimanjakan dengan murah meriah.

Kabar duka mungkin telah muncul dengan perginya beliau pada Rabu (27/1), tapi warisan yang telah beliau ciptakan akan tetap memanjakan lidah-lidah yang akan terus menikmati nikmatnya Indomie Goreng hingga beberapa generasi ke depan.

Selamat tinggal Ibu Nunuk “Indomie” Nuraini, kami tak pernah mengenal sosokmu lebih dekat. Namun engkau pantas dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa. Ini kami sematkan atas jasamu yang telah menyatukan lidah orang Indonesia.