Sepintas Soal Tari Tenggeng
beritapapua.id - Sepintas Soal Tari Tenggeng - Asep Burhanudin

Setelah menukar gelang, mereka melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Beda bungkus, beda isi. Kulit boleh cerah, isi belum tentu bagus. Begitu pula sebaliknya. Apa yang terlihat baik, belum tentu baik. Apa yang terlihat buruk pun belum tentu buruk. Tari Tenggeng salah satu contohnya. Dinilai sebagai penyebab mewabahnya HIV di Papua, Tari Tenggeng dianggap sebagai kebudayaan yang mengajarkan seks bebas. Kebudayaan ini kerap dijadikan alasan muda-mudi untuk melampiaskan hasratnya.

Baca Juga: Ndambu Pulau Kimaam yang Solutif

Arti Sebenarnya dari Tari Tenggeng

Dahulu, Tari Tenggeng dimaksudkan untuk menghibur anggota keluarga, kerabat, saudara, yang kehilangan anggota keluarganya. Tarian ini dilakukan oleh 6 sampai 20 pasang muda-mudi. Para gadis sebelumnya berada di dalam honai sambil menyanyikan lagu pembuka sembari menyalakan perapian. Setelah siap, pemimpin tarian memberikan kode agar laki-laki masuk ke dalam honai. Mereka kemudian membuat barisan, berhadap-hadapan, dan melakukan tukar gelang. Gelang yang semula ada di tangan laki-laki diberikan kepada perempuan. Ini dilakukan sebagai simbol keseriusan laki-laki terhadap pihak perempuan.

Tari Tenggeng dilakukan di saat malam hari. Tarian ini tidak dilakukan sembarangan. Pihak perempuan diizinkan untuk menolak apabila tidak terjadi kecocokan. Peserta yang boleh ikut pun harus memenuhi syarat kedewasaan. Pihak laki-laki dinilai dari luas ladang yang ia buka dan jumlah babi yang ia miliki. Sedangkan perempuan, dinilai dari menstruasi yang menandakan ia sudah dewasa. Tarian ini menurut para leluhur tidak boleh dilakukan di sembarang tempat. Apabila dilakukan, maka akan timbul malapetaka seperti kekeringan atau kekalahan perang.

Dewasa ini, budaya Tari Tenggeng telah mengalami pergeseran. Kearifan yang dimaksudkan untuk menghibur duka dan lara kehilangan orang tercinta, serta ajang mempertemukan muda-mudi yang serius untuk menjalani kehidupan bersama, malah menjadi alasan agar dapat melakukan seks bebas. Apabila dahulu banyak syarat dan pantangan yang harus dipenuhi kedua belah pihak, kini semuanya tunduk pada uang. Asalkan ada uang, maka tarian pun bisa digelar. Tak peduli dengan siapa dan di mana, uang berkata.

Pergeseran ini yang kemudian mencoreng kearifan leluhur. Menjadi benang merah, mengapa Tari Tenggeng dinilai menjadi penyebab mewabahnya HIV.