Setan Merah yang ‘Gentayangan’ di Danau Sentani
beritapapua.id - Setan Merah yang ‘Gentayangan’ di Danau Sentani - DetikTravel

Setan Merah yang ‘Gentayangan’ di Danau Sentani – “Suku Sentani menggunakan istilah buyakha untuk menyebut danau tempat tinggal mereka. Dalam bahasa Sentani, bu berarti air dan yaka berarti tempat kosong,” tutur Hari Suroto, peneliti Balai Arkeologi Papua.

Menurut Hari Suroto, peneliti Balai Arkeologi Papua, buyakha adalah sebutan yang diberikan Suku Sentani pada tempat tinggal mereka. Dahulu, leluhur Suku Sentani berjalan dari Papua Nugini ke arah barat hingga mereka menemukan danau yang begitu luas. Saat ini, danau itu dikenal dengan nama Sentani. Berbagai kisah menyelimuti danau indah nan luas itu, termasuk asal muasal nama Danau Sentani.

Hari menuturkan bahwa kata Sentani berasal dari sebutan leluhur Suku Sentani. Versi pertama, Hari menjelaskan bahwa kata ‘sentani’ berasal dari kata ‘endeni’ yang dalam bahasa leluhur Sentani memiliki makna ‘tiba’. Versi lainnya, istilah sentani berasal dari kata ‘hedam’ yang dilafalkan ‘setam’. Dari sana, muncullah istilah Sentani.

“Versi lainnya adalah dari istilah Sentani yang diperkirakan berasal dari kata hedam yang kemudian dilafalkan menjadi setam. Dari kata setam inilah muncul istilah ‘sentani’ yang terus digunakan hingga kini,” papar Hari.

Danau Sentani merupakan danau terbesar di Papua. Selain memiliki alam yang asri dan indah, Danau sentani juga rumah bagi beragam biota air tawar. Bahkan, danau ini pernah diisi ikan air laut seperti ikan hiu gergaji, ikan belanak, hingga sidat. Saat ini, ikan-ikan tersebut memang sudah tidak menghuni Danau Sentani. Namun, konon setan merah masih berkeliaran di danau tersebut. Makhluk apakah itu?

Baca Juga: 7 Petugas Medis Puskesmas Oransbari Jalani Karantina Mandiri

Setan Merah Biasa Dimakan di Danau Sentani

Setan merah bukanlah hantu. Itu hanya sebutan bagi ikan louhan yang berwarna merah. Ikan ini beranak-pinak dan hidup makmur di Danau Sentani. Saking banyak jumlahnya, masyarakat setempat kerap menjadikannya sebagai menu sehari-hari. Ikan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Danau Sentani.

“Red devil berdaging tipis dan berduri banyak. Ikan red devil oleh orang Sentani hanya dikonsumsi sebagai lauk setiap hari. Jika ada acara penting, ikan mas dan mujair yang menjadi pilihan menu utama,” ujar Hari.

Louhan merah, atau setan merah, bukanlah ikan endemik Papua. Ikan ini berasal dari Danau Nikaragua, dan Managua, Amerika Latin. Ikan endemik Danau Sentani adalah ikan pelangi atau kerap disebut oleh wisatawan sebagai Sentani Rainbowfish dan ikan gabus hitam. Ikan gabus kerap dijadikan persembahan bagi pemimpin adat tertinggi Sentani. Ikan gabus hitam dalam masyarakat lokal disebut dengan ondofolo atau kayou kahe bei bumbele ondofolo.

Kembali pada setan merah, warna merah merona ini terkenal dengan pesonanya yang menarik hati. Bagi pencinta ikan hias, warna ini menunjukkan habitat yang sehat, didukung dengan makanan yang memadai. Pada dasarnya ikan ini tidak dapat memproduksi warna merah sendiri, melainkan disebabkan oleh dua hal, antara lain makanan dan faktor genetik. Makanan dengan protein tinggi dapat mempengaruhi tingkat kecerahan warna dari seekor louhan.

Untuk membuat warna merah pada tubuh ikan louhan, makanan yang mengandung senyawa astaxanthin diperlukan. Astaxanthin adalah pewarna alami yang dapat ditemukan di udang, salmon, dan krill. Dengan mengonsumsi hewan tersebut, maka warna merah pada ikan louhan dapat muncul.