Siasat Pecah Belah ‘Ap Molah’ di Tanah Papua
beritapapua.id - Transmigran di Papua - lapago.blogspot.com

“Kelihatannya, Bangsa Kolonial kesulitan menjamah. Maka, siasat pun dilontarkan oleh Ap Molah. Sebuah siasat yang jejaknya terlihat di Tanah Papua.”

Pemindahan penduduk dalam rangka mengontrol sebuah masyarakat merupakan dinilai lebih efektif. Setidaknya itu yang disampaikan oleh Niccolo Machiovelli dalam bukunya yang berjudul The Prince. Hal itu difungsikan untuk menjaga wilayah jajahan dengan sumber daya minim, yakni mengurangi penugasan pasukan koloni di wilayah tertentu. Siasat ini pula yang digunakan oleh Ap Molah di Tanah Papua. Sebuah siasat yang menunjukkan bahwa mereka kesulitan untuk menjamah negeri berlambang cenderawasih itu.

Menilik kembali kisah masyarakat Merauke, kota tersebut kerap disambangi pelaut bugis dan asal Makassar. Tak sedikit pula orang Jawa yang kini tinggal di sana. Program transmigrasi memiliki andil dalam masuknya orang-orang Jawa di Papua. Mengacu pada catatan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dalam Transmigrasi Masa Doeloe, Kini dan Harapan Kedepan, agaknya transmigrasi memiliki hubunngan dengan warisan bangsa kolonial. Program kontrol wilayah yang sebelumnya disinggung disulap dan dipoles dengan nama ‘transmigrasi’. Nama transmigrasi bukan tanpa alasan, melainkan digunakan karena dianggap lebih nasionalis dan terbebas dari kesan penjajahan.

Baca Juga: Peradaban Awal Kehidupan Papua Di Masa Lalu

Pengaruh Transmigrasi Terhadap Kebudayaan Asli di Tanah Papua

Transmigrasi kemudian lekat dengan stigma kolonisasi. Pasalnya, beragam budaya luar yang masuk tak sedikit yang menggerus kearifan lokal. Ini diperkuat oleh tulisan Esther Heidbuchel dalam The West Papua Conflict in Indonesia: Actors, Issues and Approaches, yang menjelaskan adanya perubahan standar hidup yang mengacu pada masyarakat Jawa. Mulai dari buku sekolah, kurikulum, tata cara bercocok tanam, hingga pembangunan rumah ala masyarakat Jawa kian mewarnai. Hal ini pun menimbulkan anomali. Di satu sisi, program ini diluncurkan dalam rangka mewujudkan program pemerintah, namun di lain sisi menimbulkan kecemburuan sosial.

Seperti udang di balik batu, transmigrasi memiliki akar filosofis yang berasal dari bangsa kolonial. Program pembangunan wilayah ini kemudian membawa kontroversi. Transmigrasi diusung dalam rangka memajukan kesejahteraan penduduk Papua dan dinilai mampu mengukuhkan persatuan. Begitu yang disampaikan Sabam Siagian dalam Sekar Semerbak. Namun tak bisa dipungkiri bahwa transmigrasi pula turut andil dalam konflik kecemburuan sosial yang terjadi. Ternyata, meski telah lama meninggalkan, Ap Molah kadang masih membuat ulah. Apa mungkin, Ap Molah telah berganti wajah?