Sejarah Pengelolaan Migas
Beritapapua.id - Singkat Sejarah Pengelolaan Migas Pada Masa Lampau

Beritapapua.id – Sejarah Pengelolaan Migas, Perusahaan minyak dan gas di Indonesia cukup beragam dan beberapa yang terbesar merupakan perusahaan dengan kepemilikan asing. Hal ini tentu saja memiliki cerita dan sejarah Panjang sebelum kemerdekaan Indonesia. Berlimpahnya sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi menjadi daya tarik selain kekayaan rempah-rempah yang digaungkan menjadi alasan Indonesia dijajah dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sejarah Pengelolaan Migas 1907

Pada 1907, Shell dan de Koninklijke melakukan merger menjadi Royal Dutch Shell dan mendominasi kegiatan ekploitasi minyak di Nusantara. Royal Dutch Shell yang bergabung dalam Shell Group kemudian terbagi menjadi Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) dan Anglo Saxon. Lima tahun setelahnya, tahun 1912, perusahaan minyak Amerika mulai masuk ke Indonesia seperti Standard Oil of New Jersey dan Standard Oil of New York. Agar tidak tersaingi oleh perusahaan Amerika, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan gabungan antara pemerintah Belanda dan Amerika, yaitu Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij (Niam), di daerah Jambi, Bunyu, dan Sumatera Utara (Senoadi, 2016).

Baca juga: Upaya Meminimalkan Insiden Migas Melalui Pembentukan SDM

Perusahaan Amerika yang bergabung dengan pemerintah Belanda pada saat yang bersamaan, seperti Standard Oil of New Jersey, menggabungkan seluruh usahanya ke dalam Standard Vacuum Petroleum Maatschappij (SVPM) dalam bentuk patungan. Standard Oil of New York juga mendapat bagian pemasarannya dari penggabungan perusahaan Amerika dan perusahaan Belanda, di Hindia-Belanda. Saat ini, perusahaan tersebut bernama Mobil Oil. Masuk ke periode awal 1940-an, berakhirnya masa kolonial Belanda dan berganti kepada masa penjajahan Jepang, yaitu pada tahun 1942-1945.

Tujuan Jepang menduduki Hindia-Belanda (Indonesia) adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang dan mendukung industrinya. Jepang yang masuk ke Hindia-Belanda saat itu menyebabkan kepemilikan aset yang sebelumnya dikuasai Belanda pun jatuh ke tangan Jepang, termasuk aset yang berkaitan dengan minyak dan gas bumi di Indonesia. Pada tahun 1944 Jepang menemukan Lapangan Minas, Riau, ladang minyak terbesar di Asia Tenggara.

Sejarah Migas 1945

Pada tahun 1945 setelah kemerdekaan, pejuang kemerdekaan RI berhasil merebut dan mengambil alih kendali ladang minyak, gas, kilang dan distribusi dari Angkatan Darat Jepang. Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno pasca kemerdekaan, mulai berkeinginan untuk mengakhiri bayang-bayang buruk kolonial di sektor energi dan memulai untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip ekonomi atas nama Indonesia sendiri. Kisaran tahun 1945-1950an terjadi pengambilalihan semua instalasi minyak oleh pemerintah Republik Indonesia.