Sintong Panjaitan: Jika Mereka Ada Yang Mati, Aku Yang Bertanggung Jawab
beritapapua.id - Sintong Panjaitan. (Foto: Istimewa)

Sembilan perwira muda Kopassandha (kini bernama Kopassus) diterjunkan ke hutan menghadapi pemberontak di Kalimantan kala itu.

Di antara anggota Kopassandha itu ada empat orang perwira remaja, yaitu Letda Inf Subagyo HS, Letda Inf Kirbiantoro, Letda Inf. Muchdi PR dan Letda Inf. S. Supriyadi akan diterjunkan di hutan dekat Desa Tanjung.

Meski baru lulus pendidikan para komando para prajurit muda itu diberi kesempatan menimba pengalaman tugas langsung di medan operasi.

Dilansir dari buku ‘Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ karya Hendro Subroto, tradisi ini pernah dialami sembilan perwira muda yang baru menyelesaikan pendidikan di Pusat Pendidikan Kopassandha (sekarang Kopassus) di Batujajar, Jawa Barat.

Sembilan perwira muda bergabung dengan Yonif 515 yang bermarkas induk di Jember, Jawa Timur. Anggota Kopassandha itu akan memulai tugas pertempuran sebagai komandan pleton pada pasukan infantri.

Lima orang perwira remaja lainnya, masing-masing Lettu Inf Torang Tobing, Lettu Inf Niko Tumatar, Lettu Inf Edward Simbolon, Letda Inf Istiarto dan Lettu Johanes Bambang, akan ditempatkan di hutan dekat desa Paloh mereka bergabung dengan Satgas-42.

Pada 5 Desember 1972 pagi hari, pesawat C-47 Dakota Skadron-2 / Angkut Ringan AURI take off dari Pangkalan Udara (Lanud) Supadio, Pontianak, menuju hutan di Sektor Barat Kalimantan Barat di dekat daerah perbatasan.

Mengingat hutan di daerah itu terdapat aktivitas gerombolan komunis Sarawak, maka Komandan Satgas 42/Kopassandha Mayor Sintong Panjaitan meminta agar disediakan pasukan pengamanan. Sintong mengatakan terjun tempur di hutan, akan berkesan bagi para remaja. “Tapi jika mereka ada yang mati, aku yang bertanggung jawab,” kata Sintong.

Sosok Pemimpin 200 Prajurit Baret Merah

Sintong Panjaitan saat itu adalah Komandan Satgas 42/Kopassandha yang ditugaskan menggantikan Satgas 32/Kopassandha dan Kompi A Yonif 412 Kodam VII/Diponegoro.

Sintong Panjaitan kemudian memimpin penerjunan sebanyak 200 orang prajurit baret merah. Sembilan perwira muda yang ikut terjun saat itu mendarat dengan selamat. Penduduk di kampung-kampung yang menyaksikan penerjunan itu terkagum-kagum dengan aksi penerjunan itu.

Baca Juga: Saingi AS, Rusia Punya Laboratorium Pengendali Cuaca Sura

Dengan pengalaman terjun tempur di hutan Kalimantan Barat, kesembilan perwira remaja mendapat ‘Bintang Merah’ pada sayap terjun di dada kiri mereka. Perkembangan selanjutnya, keempat remaja yang ditugaskan selama lima bulan sebagai komandan peleton pada Yonif 515 kemudian, ditarik ke Mako Satgas-42 di Paloh.

Letda Subagyo HS dan Letda Muchdi PR terpilih sebagai Komandan Tim pasukan Baret Merah untuk memimpin pasukan para komando seperti yang dibutuhkan Sintong dalam Operasi Kilat tugas tempur di Sulawesi Selatan dan Tenggara.