Siswi SMA Jayapura Diduga Diculik Oknum Politisi dan Pejabat
beritapapua.id - ilustrasi kekerasan terhadap anak. (foto: istimewa)

Oknum pejabat dan politisi diduga culik dan perkosa siswi SMA di Jayapura Papua. Polda Papua memeriksa tujuh orang saksi terkait kasus dugaan penculikan dan pemerkosaan yang terduga pelakunya adalah oknum pejabat dan politisi terhadap siswi SMA di Jayapura, Papua.

Polisi melakukan pemeriksaan terhadap ketujuh saksi pada Kamis (16/9/2021) kemarin dan masih mencari kebenaran atas kasus tersebut.

“Kita sudah lakukan pemeriksaan tujuh orang saksi pasca laporan keluarga korban pada Sabtu lalu. Dan masih akan terus melakukan pemeriksaan kasus. Kita terapkan pasal perlindungan anak yakni pasal 81 UU Nomor 34 Tahun 2014 dan perubahan UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak,” kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol A.M Kamal, Kamis (16/9/2021).

Kamal mengatakan, terkait informasi bahwa telah adanya perdamaian terhadap kasus tersebut adalah kasus yang berbeda. Kasus yang telah melakukan perdamaian adalah kasus pengeroyokan yang kemudian ada laporan ke Polsek Heram.

Baca Juga: Gubernur Papua Sampaikan Rasa Duka Atas Wafatnya Gabriela Meilan

Dan terkait kasus pemerkosaan itu, ia tegaskan masih dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini agar mengetahui berapa korban dan ada berapa pelaku yang melakukan tersebut.

“Perdamaian itu atas kasus sebelumnya. Namun untuk kasus pemerkosaan masih akan didalami. Kita masih lakukan penyelidikan dan pemeriksaan lanjut. Apakah korban ini satu atau empat dan apakah ada pelaku-pelaku lain. Kita akan cari kronologi kasus ini,” jelasnya.

Kasus Pemerkosaan Viral di Media Sosial

Sebelumnya, viral di media sosial kasus pemerkosaan terhadap empat siswi di salah satu SMA di Jayapura yang diduga dilakukan oleh pejabat Dinas PUPR Papua dan Politisi Papua di Jakarta.

Dan kejadian tersebut bermula saat tweet @kasmenyalasu mengatakan bahwa telah terjadi penculikan dan pemerkosaan terhadap empat siswi oleh salah satu oknum Politisi. Setelah itu tweet-an tersebut menjadi viral dan jadi pembincangan di dunia maya.

Dengan viralnya kasus tersebut akhirnya mendapatkan perhatian dari KPAI, Komnas HAM, dan LBH. Sampai saat ini kasus tersebut masih dalam proses pemeriksaan dan masih berjalan. Meski sempat ada berita yang mengatakan bahwa kasus tersebut telah dilakukan perdamaian, namun hal tersebut tidak benar.