Soichiro Honda, Anak Pandai Besi yang Merajai Pasar Otomotif Dunia
Soichiro Honda (foto : istimewa)

Soichiro Honda, Anak Pandai Besi yang Merajai Pasar Otomotif Dunia – Sport Utility Vehicle (SUV) hitam bermerk Honda All New CRV itu terlihat gagah membelah jalanan Kemang, Jakarta Selatan. Interior dengan sejumlah fitur canggih di dalamnya tak kalah memukau.

Honda memang tak pernah berhenti dalam melakukan inovasi terhadap mobil produksinya. Berbagai kelas dan genre dikembangkannya. Kendaraan khusus perempuan, hingga mobil tangguh nan jantan pun dirambahnya dengan serius.

Honda merupakan produk otomotif Jepang yang berhasil meringsak masuk ke pasar otomotif Amerika Serikat (AS) bersama dengan Nissan dan Toyota pada tahun 80’an. Amerika yang kala itu didominasi oleh produk besutan lokal seperti General Motors, harus bersaing dengan pemain otomotif Asia.

Pada tahun 2019, varian Honda CR-V dapat membukukan penjualan di AS sebanyak 348.000 unit. Industri otomotif Jepang yang awalnya dipandang sebelah mata di AS, kini mendominasi dunia.

Honda mulai diperkenalkan di AS awalnya melalui pabrikan sepeda motor pada tahun 1960-an. Perlahan, mereka pun mulai merambah industri mobil yang kala itu masih sangat ditembus.

Baru pada tahun 1970, Honda mulai berani membuka dealer di AS dengan produk Honda N600-nya. Dengan inovasi dan fitur yang ramah bagi pengguna, mobil Honda pun mulai dilirik di pasar AS.

Perjuangan Soichiro Honda, Dari Gubuk Kayu Menjadi Pabrik Multinasional

Industri raksasa ini didirikan oleh Soichiro Honda, seorang insinyur Jepang yang lahir pada tanggal 17 November 1906. Ia mengawali ambisinya hanya dengan pabrikan yang berawal dari gubuk kayu yang memproduksi sepeda bermesin di Jepang.

Baca Juga : Sekaratnya Jurnalisme Warga, Hilangnya Objektivitas, Dirisak UU ITE

Lahir dari keluarga pandai besi, Soichiro sejak kecil sudah membantu ayahnya dengan melakukan reparasi sepeda di desanya.

Pada usia 15 tahun, Soichiro merantau ke Tokyo, dari desanya di Komyo, untuk bekerja pada sebuah bengkel. Berbekal pengetahuannya sebagai montir selama enam tahun di Tokyo, Soichiro kembali ke desanya untuk membuka bengkelnya sendiri.

Keahlian yang diperolehnya secara otodidak ini, kemudian dipergunakannya untuk berani memproduksi spare part mobil untuk Toyota. Setelah perang dunia berakhir, Soichiro menjual seluruh aset pabrik spare partnya kepada Toyota.

Bermodalkan 450.000 Yen yang didapatkannya dari hasil penjualan pabrik, Soichiro kemudian mendirikan Honda Technical Research Institute pada tahun 1946. Pada tahun 1948, perusahaannya mulai memproduksi sepeda motor yang kemudian diproduksi massal.

Honda kini telah merambah industri otomotif di Indonesia pada segala segmen. Dari kendaraan low-end¬ seperti Honda Brio, hingga kendaraan mewah seperti All New Civic dan CR-V. Handling Honda yang user-friendly serta tampilannya yang menawan, memang masih memikat hati para pecinta otomotif di Indonesia.