Solidaritas Global, Tema Hari AIDS Sedunia 2020
Beritapapua.id - Solidaritas Global, Tema Hari AIDS Sedunia 2020 - Tribun

Solidaritas Global, Tema Hari AIDS Sedunia 2020 – Tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Hari AIDS Sedunia pertama kali digagas pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua petugas informasi publik untuk Program Global AIDS di Jenewa, Swiss.

AIDS dikenal sebagai penyakit mematikan yang sampai saat ini masih tidak ada obatnya. Penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ini sudah menjadi permasalahan di dunia kesehatan sejak lama. Apalagi tidak sedikit penderita AIDS yang kerap kali mendapatkan perilaku diskriminatif dari lingkungannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan kampanye Solidaritas Global sebagai tema pada peringatan Hari AIDS Sedunia 2020. Seruan ini difokuskan kepada kelompok rentan yang sudah berisiko dan memperluas cakupan ke anak-anak dan remaja. Selain itu, kampanye ini juga menyerukan upaya perlindungan dan dukungan untuk para tenaga medis yang selama ini memberikan pelayanan akan penyakit AIDS. Serta masyarakat juga dapat berkontribusi pada upaya penanggulangan AIDS dan menjadikan dunia yang lebih sehat.

Baca Juga: Wagub Papua Klemen Tinal Tinjau Kesiapan Pilkada Kabupaten Keerom

Makna dan Sejarah Pita Merah Dalam Peringatan Hari AIDS

Solidaritas Global, Tema Hari AIDS Sedunia 2020
Beritapapua.id – Solidaritas Global, Tema Hari AIDS Sedunia 2020 – Tribun

Mengenakan pita merah menjadi simbol solidaritas dan dukungan terhadap orang yang hidup dengan HIV AIDS.  Ini merupakan cara yang sederhana dan ampuh untuk menantang stigma dan prasangka buruk seputar AIDS. Pita merah telah menjadi simbol kesadaran akan AIDS yang diakui secara internasional.

Awalnya pada tahun 1988, sebuah kelompok bernama Visual AIDS yang didirikan oleh para profesional seni sebagai respon terhadap pengaruh AIDS. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1991, beberapa anggota Visual AIDS berkumpul untuk merancang sebuah simbol visual untuk menunjukkan simpati bagi orang yang hidup dengan HIV dan pemberi perawatan terhadap mereka.

Pita merah terinspirasi dari pita kuning yang digunakan untuk menghormati tentara Amerika yang bertugas dalam perang Teluk. Para seniman kemudian memilih untuk membuat pita merah untuk melambangkan dukungan dan solidaritas bagi orang yang hidup dengan HIV dan untuk mengenang mereka yang telah meninggal karena penyakit terkait AIDS. Warna merah dipilih karena hubungan dengan darah dan gagasan gairah tidak hanya kemarahan, tapi cinta.