Sombong Adalah Menolak Kebenaran dan Merendahkan Manusia
beritapapua.id - ilustrasi orang sombong (foto : istimewa)

Sombong bukanlah perihal merasa punya pendapat paling benar saja. Termasuk sombong adalah merendahkan orang lain. Bahkan, menolak kebenaran pun termasuk mereka yang sombong. Hal ini sesuai dengan hadis dari Ibnu Mas’ud,

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sesungguhnya Allah itu jamil (indah) dan menyukai suatu yang indah. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Berbicara soal sombong pada era milenial seperti ini adalah sangat relevan. Keberadaan sosial media memudahkan kita melakukan hal tersebut. Setiap hari, kita punya kesempatan untuk mendebat orang lain secara langsung dan mudah.

Yang menjadi masalah adalah ketika terjadi perbedaan pendapat. Ketika ada perbedaan pendapat terjadi pada sesama, apa yang terjadi? Umumnya, hal ini memicu caci maki pada mereka yang punya pendapat minoritas.

Bahkan, perbedaan pendapat dapat menjerumuskan pada pengucilan sosial dan perundungan. Tentu, hal ini memicu permasalahan. Terutama soal kedamaian sosial dan interaksi terhadap sesama.

Padahal, Ka’ab bin Malik, dari ayahnya, mendengar nabi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ »

“Barangsiapa yang menuntut ilmu karena hendak mendebat para ‘ulama, atau berbangga-bangga pada hadapan orang-orang bodoh, atau ingin perhatian orang tertuju padanya, maka Allah akan masukkannya ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Hasan menurut Syaikh Al Albani)

Selanjutnya, hadis tersebut menjelaskan bahwa kita harus berhati-hati dalam berpendapat. Bahwa, memiliki pendapat pun harus memerhatikan adab dan akhlak. Termasuk ketika ada perbedaan pendapat.

Islam yang Baik Adalah Mereka yang Mampu Menjaga Lisannya

Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Bahkan dalam Islam pun, hal ini sudah ada sejak lama. Jika sudah ada dari dulu, begitu pula sekarang. Oleh karena itu, apa sikap terbaik kala menghadapi perbedaan pendapat?

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Muslim adalah orang yang mampu menjaga orang lain dari lisan dan tangannya” (HR: Bukhari)

Selanjutnya, tentang menghadapi pendapat yang salah. Ketika kita melihat hal yang tidak sesuai menurut kita, maka bukan serta merta kita mencaci dan mencerca. Sebaliknya, kita tanyakan terlebih dahulu ihwal perbedaan pendapat.

Baca Juga : Akibat Internet Mati, Proses Belajar Daring di Jayapura Tersendat

Adapun jika ternyata pendapat mereka yang salah, maka janganlah menghardik. Ingatkah kala Nabi Musa alaihissalam berdakwah pada Fir’aun? Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihissalam ketika akan memberi nasehat kepada Fir’aun, Allah berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah” (QS. Thaha: 44).

Kemudian, bagaimana ketika ia tidak mau mendengarkan? Maka, tinggalkanlah perbedapat atas dasar ikhlas dan memperkuat persaudaraan. Oleh karenanya, ini adalah akhlak dalam berdebat kala ada perbedaan pendapat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras debatnya.” (HR. Bukhari, no. 4523; Muslim, no. 2668)

Dengan demikian, ketika banyak orang yang berusaha menjaga pendapatnya, maka jadilah orang muslim dengan akhlak yang baik. Orang muslim yang menjaga persaudaraan, tidak memaksakan kehendak, dan menasehati dengan cara yang lembut.