Sonowi Intan Jaya, Pria Dengan Puluhan Istri Meninggal Dunia
beritapapua.id - Oktovianus Sondegau (kanan) di Kabupaten Intan Jaya bersama cucunya Pastor Kelopas Sojuga Sondegau (kiri). (foto : jubi)

Oktovianus Sondegau, sonowi (bigman) besar asal Sugapa, Kab. Intan Jaya dikabarkan telah meninggal dunia. Dia memiliki 20-an istri dan ratusan anak. Dari anaknya ia punya cucu dan juga cici.

Kabar meninggalnya Oktovinus Sondegau telah berseliweran di jagat maya facebook sejak pagi. Informasi yang meyakinkan, Suara Papua peroleh dari Pastor Kleopas Sondegau, Pr. Seorang imam projo di Keuskupan Jayapura. Dia mengungkapkan bahwa Oktovianus Sondegau telah meninggal dunia pada Senin 5 Juni 2021 di kampungnya.

Alm. Oktovinus Sondegau merupakan satu-satunya sonowi di Kabupaten Intan Jaya yang memiliki 20-an istri. Dari hasil perkawinannya dengan 20-an perempuan itu, telah dikaruniai ratusan anak. Diperkirakan ia meninggal pada usia 79 tahun. Pada tahun 2017, saat diwawancarai detik.com, Oktovianus mengungkapkan bahwa umurnya adalah 75 tahun. Sehingga diperkirakan ia meninggal pada usia 79 tahun.

Selain beristri puluhan, dia juga termasuk orang terpandang dan orang kaya yang disegani di seantero Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Di kalangan suku Migani yang mendiami Kabupaten Intan Jaya dan suku-suku lainnya yang juga mendiami kabupaten tersebut mengenalnya secara luas karena dia seorang tokoh dan bigman. Dalam Bahasa setempat, dia sering disebut dan disapa Sonowi (orang kaya) dan tope sonowi (bigman).

Sonowi, Memiliki Ratusan Babi, Berpolitik Secara Budaya

Dia dikenal sebagai sonowi, juga karena memiliki ratusan babi dan orang terpandang yang selalu berpolitik secara budaya dengan kigi (kulit bia). Nilai kulit bia yang paling rendah adalah kurang lebih 10 juta. Dan kulit biah yang tingkatnya tinggi, bisa mencapai 1 miliar. Dan alm. Oktovianus adalah salah satu yang dekat dengan politik budaya dengan kulit bia antar sonowi-sonowi yang ada di Kabupaten Intan Jaya.

Pernyataan mengejutkan pernah diungkapkan alm. Oktovianus saat diwawancarai Cenderawasih Pos pada tahun 2013. Ia mengaku pertama kali ia menikah pada usia 15 tahun.

Sejumlah anak-anak alm. Oktovianus juga orang-orang terpandang dan terdirik. Ada yang pernah menduduki jabatan DPRD Kab. Intan Jaya selama dua periode, ada yang kepala dinas di Kab. Intan Jaya, ada yang PNS, guru dan masih banyak lagi yang telah selsaikan sekolah dan mendapat pekerjaan yang baik.

Baca Juga : Konflik Selesai, Bupati Puncak Minta Pengungsi Pulang

Selebihnya, cucu-cucu dari Alm. Oktovianus adalah yang menjadi Imam gereja Katolik di Keuskupan Jayapura, dan banyak yang telah selesaikan pendidikan di tingkat SD, SMP, SMA dan sarjana. Di usianya yang sudah senja, anak-anak berserta cucu-cucunya yang sudah bekerja dan menempati posisi strategis di pemeirntah Kabupaten Intan jaya bekerja di Intan Jaya juga.

Anak-anaknya Banyak Yang Menjadi Orang Hebat

Sehingga alm. Oktovianus tidak hanya dikenal sebagai Tope Sonowi dalam hal berpolitik dalam budaya migani dengan kigi (kulit bia) tetapi dia juga memiliki puluhan istri. Beberapa telah meninggal dunia, sebagian lainnya masih ada.

Yang lebih hebatnya lagi adalah anak-anaknya banyak yang sekolah dan menjadi orang-orang hebat di pemrintahan dan politik praktis. Termasuk cucu-cucunya banyak yang telah menyelesaikan studi dari tingkat SD hingga sarjana. Hingga alm. Oktovianus menghembuskan nafas terakhir, dipastikan bahwa lusinanan anak-anaknya masih ada yang di bangku SD hingga di bangku kuliah.

Semua biaya Pendidikan anak-anaknya ia biayai sendiri Bersama istri hingga selesai Pendidikan.

Itulah sebagaian kehebatan, kesuksesan dan keberhasilan alm. Oktovianus Sondegau saat menikah pertama kali hingga beristri banyak dan memiliki ratusan anak.

Dan Sonowi Oktovianus Sondengau telah berpulang pada usianya yang mendekat 80 tahun, pada 5 Juni 2021 di Kampung Bajemba, Yokatapa, distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua.

Namanya akan selalu dikenang sebagai seorang ayah, seorang panutan, orang terpandang dan Sonowi Besar (bigman) di Kabupaten Intan Jaya, tidak hanya oleh istri, anak, cucu dan cicinya saja, tetapi semua orang di daerah Migani.