Sugeng Tindak, Pakdhe Didi Kempot. Njenengan Tiyang Sae
beritapapua.id - Sugeng Tindak, Pakdhe Didi Kempot. Njenengan Tiyang Sae - Lentera inspiratif

Didi Kempot: “Umpane kowe uwis mulyo. Lilo aku lilo. Yo mung siji, dadi panyuwunku. Aku pengin ketemu. Senajan wektumu mung sedhela, kanggo tombo kangen jroning dodo” Alunan lagu campursari yang menyayat hati itu terdengar begitu merdu di telinga kami yang sedang patah hati.

Di era 2000’an, Didi Kempot merupakan ikon, bagi sebuah genre musik yang bernama campursari. Ketenaran beliau selayaknya menancapkan bendera pertanda sebuah genre musik yang baru sama sekali. Sebuah fusion antara dangdut dan keroncong.

Campursari menjadi perlambang kerinduan bagi orang Jawa yang sedang merantau. Menjadi sebuah pendobrak bagi irama dangdut yang kala itu lebih mendayu-dayu. Dia menjadi tatanan baru bagi dunia musik Indonesia yang sedang dirajai genre rock dan pop.

Begitu universalnya lagu “Sewu Kuto” pada pertengahan 2005, lagu ini tak hanya mendapat tempat bagi orang yang berbahasa Jawa saja. Mahasiswa-mahasiswa perantauan pun tak ketinggalan menikmati musik-musiknya Didi Kempot. Lantunan lagu “Sewu Kuto” yang keluar dari aksen yang enggak ‘medok’ menjadi warna tersendiri dalam pergaulan sehari-hari.

Kekuatan musikalitas dari Didi Kempot terletak pada liriknya yang begitu dalam mengorek kekecewaan hati. Dipadu dengan irama keroncong dangdut yang hampir tak pernah mendayu, lagu-lagu Didi Kempot selalu menarik untuk didendangkan bersama.

Di awal 2010’an, pamor Didi Kempot mulai hilang. Ketenarannya tidak redup, namun musiknya tak lagi begitu didendangkan di mana-mana. Di daerah-daerah, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tentu Dirinya selalu mendapatkan tempat. Namun sebatas itu saja.

Dionisius Prasetyo, begitu nama beliau ketika dilahirkan 53 tahun yang lalu. Kempot merupakan abreviasi dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup musik asal Surakarta yang membawa ia hijrah ke Jakarta pada tahun 1987. Lebih dari 700 lagu sudah diciptakan beliau. Begitu banyak karya dihasilkan dari pandangan beliau terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.

Baca Juga: Kini Ditangkap, ASN Pengancam Jenderal Bintang Satu

Kembali Sebagai The Godfather of Broken Heart

Di tahun 2019 awal, nama Didi Kempot kembali menghiasi belantika musik nasional. Kali ini Didi Kempot kembali dengan dentuman yang lebih keras lagi. Didi hadir kembali bahkan melahirkan komunitas yang baru yang diberi nama Sobat Ambyar.

Lord Didi, The Godfather of Broken Heart, begitu mereka menyebutnya. Kembali, seperti kehadirannya di tahun 2000-an, Didi Kempot hadir ketika tatanan musik di Indonesia sedang dirajai genre elektronik, dan pop jazz. Didi hadir kali ini bukan membawa genre baru, namun lebih sebagai simbol dari patah hati.

Tak disangka penampilan pada tanggal 18 April 2020 lalu menjadi panggung terakhir beliau. Konser amal untuk menggalang donasi bagi penanggulangan Covid-19 yang digelar secara virtual ini berhasil mengumpulkan Rp7,4 miliar sampai dengan saat ini. Pencapaian ini merupakan puncak dari jejak kebaikan beliau bagi wong cilik yang selalu manjadi bagian dari seorang Didi Kempot.

Didi menjadi musisi lintas generasi, yang selalu mendobrak alur musik yang sedang merajai tangga, dengan keunikannya. Didi adalah sebuah mahakarya, Didi adalah simbol dari sebuah komitmen bermusik. Didi Kempot adalah senyuman yang khas dengan segala kerendahan hatinya. Didi Kempot adalah kita yang patah hati.

Sugeng tindak, Pakdhe Didi. Njenengan tiyang sae. Mugo husnul khotimah.