Suku Koroway, Penghuni Rumah Pohon Tertinggi di Papua
beritapapua.id - Suku Koroway, Penghuni Rumah Pohon Tertinggi di Papua - Majalah Just For Kid

“Rumah pohon yang dibangun oleh Suku Koroway, Papua, bisa mencapai 15-50 meter.”

Seorang pemuda tengah memanjat pohon yang begitu tinggi. Tak pasti tinggi pohon itu, sekitar 15-20 meter. Wajahnya biasa saja, tak terlihat takut akan ketinggian. Bukan jatuh yang ia takutkan, melainkan sosok binatang buas yang siap memangsa dirinya atau keluarganya. Binatang buas bukanlah satu-satunya yang mengintai. Ia dan komunitasnya percaya, ketika malam datang, sosok makhluk jelmaan iblis yang berjalan seperti mayat hidup akan menyerang mereka.

Orang-orang komunitas Koroway, selatan Papua, kerap menyebut roh jahat yang berkeliaran pada malam hari itu sebagai laleo. Salah satu kepercayaan Suku Koroway dalam membangun rumah di atas pohon setinggi 15 hingga 20 meter adalah untuk menghindari iblis itu. Mereka percaya, semakin tinggi rumah mereka, maka semakin aman hidup mereka dari gangguan roh jahat. Tak peduli dengan sulitnya memanjat pohon itu. Selain untuk bertahan hidup, rumah Suku Korowai adalah bukti cinta mereka terhadap leluhur.

Kampung Yafulfa, Boven Digul, bagian selatan Papua, merupakan rumah bagi Suku Koroway. Dekat dengan tempat pengasingan tokoh pergerakan zaman Belanda, Boven Digul terkenal dengan binatang buas, salah satunya buaya. Itu sebabnya masyarakat setempat beradaptasi melalui rumah pohon. Mereka hidup bersahaja dalam kesederhanaan, merajut budaya tanpa teknologi kekinian. Hingga 2019, tradisi rumah Suku Koroway masih terjaga.

Rumah Suku Moroway tak dibangun di atas sembarang pohon. Mereka hanya memilih pohon yang kokoh dan tinggi sebagai rumah mereka. Bagian atasnya digunduli dan dipasangi kerangka rumah dari kayu dan ranting kecil. Rumah itu beralaskan cabang pohon yang kokoh dan dilindungi oleh kulit pohon sagu sebagai atap dan dinding. Seluruh komponen diikat menggunakan tali dari ranting atau akar pohon.

Membangun rumah pohon biasanya membutuhkan waktu 7 hari. Sebelumnya, warga akan melakukan ritual malam untuk mengusir roh jahat.

Baca Juga: Keajaiban Kecil di Wamena, Terdapat Pasir Putih di Atas Bukit

Toleransi di Tengah Isolasi

Suku Koroway sudah merasakan sejumlah program pemberdayaan komunitas adat terpencil dari Kementerian Sosial. Kendatipun demikian, mereka masih terisolasi dalam konteks akses jalan darat serta sejumlah fasilitas seperti pendidikan serta kesehatan yang terbatas. Ini membuat masyarakat Koroway minim melakukan interaksi dengan orang lain. Lantas, bagaimanakan interaksi mereka dengan orang lain?

Hidup terisolasi, bukan berarti tidak ada toleransi. Begitu kurang lebih ungakpan Irfan Nugraha, seorang peneliti yang pernah bertandang ke Suku Koroway di Boven Digul, tahun 2017 lalu. Menurut penelitiannya, keterasingan Koroway memiliki keunikan tersendiri. Mereka tidak serta-merta keras terhadap perbedaan yang mereka temui, salah satunya perihal peribadatan.

Kisah Irfan cukup terkenal, yakni kala ia melakukan ibadah salat di tengah masyarakat Koroway. Ritual agama Islam itu merupakan hal yang tak lazim di kalangan Koroway, namun tak serta-merta mereka tentang. Dalam waktu singkat mereka langsung menyimpulkan bahwa masing-masing komunitas memiliki cara peribadatan yang berbeda, termasuk Koroway.

“Oh, sama seperti kami; kami juga beribadah. Hanya beda saja caranya,” jelas salah seorang Suku Koroway, melansir dari tulisan Irfan Nugraha yang diunggah di nationalgeographic.com.

Artikel besutan Irfan menjadi sebuah bukti perjalanan kearifan masyarakat asli Papua, salah satunya Suku Koroway. Ini sekaligus mengikat sebuah kesimpulan bahwa perbedaan bukanlah masalah. Toleransi masih dapat dipupuk meski hidup dalam interaksi minim dengan orang luar.