Sulaiman, Guru Papua yang Mengabdi Sendirian Puluhan Tahun
Sulaiman, Guru Papua yang Mengabdi Sendirian Puluhan Tahun (foto : twitter @daniellsinaga)

Nama Sulaiman, guru honorer asal Wamena-Papua, viral akhir-akhir ini. Beliau adalah seorang pengajar yang sudah puluhan tahun mengabdi sendirian mendidik anak-anak pada wilayah timur Indonesia itu.

Sosok guru inspiratif ini viral kala seorang netizen, @daniellsinaga, mengunggah ceritanya pada twitter. Ia mengisahkan bahwa Pak Sulaiman mengajar pada Desa Wamerek, yang terletak pada pedalaman Lembah Baliem, Wamena, Papua.

“Beliau sudah puluhan tahun menjadi guru honorer. Bisa dikatakan beliau menjadi satu satunya tenaga pengajar bagi anak didiknya, karena kepala sekolah dan guru PNS tinggal di kota. Mereka hanya datang sebulan sekali, di awal bulan atau saat ujian,” tulis Daniel pada unggahan twitternya.

Menurut Daniel, Sulaiman adalah satu-satunya pengajar bagi siswa-siswi Desa Wamerek. Ini karena tenaga pengajar sekolah itu semua tinggal di kota. Mereka hanya datang sebulan sekali pada awal bulan atau saat ujian saja.

Kendati demikian, raut wajah Sulaiman tak menampakkan keluh kesah. Laki-laki yang juga pendeta ini merasa cukup dengan apa yang ia punya. Bahkan, ia menyebut apa yang ia lakukan adalah bentuk pelayanan kepada Tuhan.

“Ladang dan kebun sudah memenuhi semua kebutuhan rumah tangga saya. Menjadi guru honorer adalah bentuk pelayanan terhadap Tuhan, sebagaimana saya memimpin jemaat di setiap ibadah Minggu,” katanya, mengutip urbanasia.com.

Kemudian, Sulaiman juga mengajar ketika jam sekolah sudah selesai. Misalnya, ketika sore tiba, anak-anak berkumpul di rumah Sulaiman. Mereka belajar berhitung atau sekadar membaca untuk menambah wawasan.

Daniel juga menyebut bahwa Sulaiman adalah sosok pendeta yang kerap memimpin ibadah warga sekitar.

“Menjadi guru honorer adalah bentuk pelayanannya terhadap Tuhan, sebagaimana beliau memimpin jemaatnya di setiap ibadah hari Minggu,” tutur Daniel.

Makna Sarjana bagi Seorang Sulaiman

Sulaiman adalah satu-satunya sarjana yang tingga di sana. Impiannya adalah mendidik anak-anak Wamena agar dapat setara dengan anak-anak lainnya. Meski tidak bestatus PNS, tidak bergaji besar, namun ia menjalani tugasnya dengan baik.

Baca Juga : Belajar Berharap Kepada Allah dari Kisah Nabi Zakaria

“Bagi saya, itu tidak adil. Tapi, dari gesture dan raut mukanya, tidak sedikitpun beliau (Sulaiman) menampakkan keluhan terhadap sikap atasan dan rekan kerjanya,” tulis Daniel pada twitter-nya.

Sulaiman adalah menjadi inspirasi bagi tenaga pendidik lainnya.Tak hanya itu, Sulaiman patu menjadi contoh bagi sarjana lainnya. Bahwa, semangat dan impian untuk berbgai merupakan yang perlu kita pupuk bersama.

Selanjutnya, Sulaiman, dengan segala apa yang kita sebut sebagai kekurangan merasa bahwa hidupnya cukup. Ia melakukan tugasnya dan mencitai pekerjaannya.

“Beliau sangat mencintai pekerjaannya. Setiap sore banyak anak yang berkumpul di beranda rumah untuk membaca buku dan belajar membaca atau berhitung di luar jam sekolah,” tulis Daniel.

Masihkah kita mengeluhkan pekerjaan kita?