Surga Kecil Hendrik Yance
beritapapua.id - Surga Kecil Hendrik Yance - tagar.id

“Papua adalah tanah damai, dan kita menjaga Papua sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi,” -Hendrik Yance Udam

Putra kelahiran Griminawa, Abepura, Jayapura, ini kerap disebutkan sebagai putra terbaik masyarakat Griminawa. Statusnya sebagai putra terbaik diraih setelah kiprahnya dalam menyuarakan Tanah Papua menyentuh seluruh warga Papua. Tak hanya itu, Ondofolo, sebutan bagi pemimpin adat tertinggi, dan Sosero, sebutan untuk kepala adat wilayah di Jayapura, turut mengamini statusnya sebagai putra terbaik Jayapura.

Bagi Kepala Suku wilayah adat Griminawa, pemberian gelar adat bukanlah hal yang lazim di era modern seperti ini. Pada tanggal 8 November 2019, Hendrik Yance Udam diberi gelar sebagai seorang Ondofolo, atau panglima besar. Tak hanya itu, ia pula ditahbiskan menjadi Anak Dobontoro. Gelar tersebut merupakan harapan masyarakat pada Hendrik yang dipercaya dapat mengayomi, melindungi, serta membina seluruh tanah Tabi.

Hendrik bukanlah seorang anggota Partai Politik. Meski begitu, Hendrik merupakan salah satu orang yang berperan menjembatani pemuda-pemudi Tanah Papua agar bisa berkontribusi lebih untuk bangsa dan tanah kelahirannya. Gerakan Cinta Indonesia, atau Gercin, mengandung harapan masyarakat Papua untuk membangun tanah kelahiran mereka dalam bingkai NKRI.

Baca Juga: Konflik Etnis Papua: Tersesat dalam Definisi

Hendrik Tidak Berhenti Menginspirasi

Sebagai orang yang disebut-sebut sebagai tokoh Papua zaman now, Hendrik berhasil membuka mata masyarakat Indonesia bahwa Papua adalah Surga Kecil yang jatuh ke bumi. Harapan dan cita-citanya terlihat dari untaian katanya kala ia berbicara di Jakarta para 20 Agustus 2019 lalu.

“Kami meminta dengan hormat, hukum di negara kita ditegakkan, kami minta oknum-oknum itu ditangkap, segera ditangkap dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di negara kita. Sehingga dapat mengobati luka masyarakat Papua yang terlukai, yang disebut sebagai monyet,”

-Hendrik Yance Udam saat jumpa Pers di Jakarta 20 Agustus 2019.

Kalimat tersebut merangkum visi nya yang ia sematkan dalam Organisasi Gercin. Siapa yang tak terenyuh oleh kalimat tersebut? Jika sebelumnya Frans Kaisiepo hendak mengubah stigma masyarakat Papua dengan menyebut mereka dengan Irian, kini Hendrik hadir dengan frekuensi yang sama dengan pahlawan Indonesia itu.

Saat ini, Papua tengah diterjang berbagai stigma, dilanda beragam konflik. Rasisme, separatisme, hingga sebutan tak pantas menempel pada mereka. Hendrik berupaya untuk membuka mata masyarakat Indonesia, bahwa Papua adalah surga kecil. Surga dengan seribu bahasa, seribu budaya, serta keindahan alamnya. Apakah kita akan terus menggunakan sudut pandang bangsa kolonial untuk melihat saudara kita di Timur Indonesia ini? Warisan bangsa kolonial yang menyebut mereka terbekalang dan liar? Semua hendak dipatahkan oleh Hendrik.