Bagian Sabar
Tak Hanya Diam, Ketahui 3 Bagian Sabar Ini. Sumber: Google

3 Bagian Sabar – Apa yang akan Anda katakan ketika Anda mendapati kawan Anda sedang mendapatkan musibah? Umumnya, Anda akan memintanya untuk bersabar. Bersabar atas kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dan tetap dalam ketaatan.

Begitu pula jika Anda mendapat kawan Anda yang sedang marah. Anda tak akan segan-segan menyuruhnya untuk bersabar. Lantas, apa itu sabar?

Menurut ajaran agama Islam, secara sederhana sabar sama dengan menahan perilaku buruk. Perilaku tersebut dapat berbentuk maksiat dan segala hal yang tidak Allah kehendaki.

Dalam Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan hal serupa. Beliau berkata,

“Sabar adalah menahan jiwa agar senantiasa taat kepada Allah, dan menahannya dari berbuat maksiat, dan menahan jiwa dari rasa tidak ridha terhadap takdir-Nya, sehingga seseorang bisa menahan jiwanya dari menampakkan rasa jengkel, jemu, dan bosan.”

Siifat tersebut merupakan kunci ketaatan dan kunci beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Melalui bersabar, mampu mendorong kita untuk tetap istiqamah, tetap melakukan ibadah, dan kuat menghadapi cobaan.

Dengan demikian, Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia yang tangguh dan kuat. Termasuk sabar adalah menahan amarah, menahan perkataan kotor, bahkan menahan dari bermalas-malasan.

Tidak Menceritakan Musibah dalam Hidup Termasuk Sabar

Baca juga: Lestarikan Budaya dengan Lagu, Papua Original Band Rilis Single Baru

Salah satu bentuknya adalah tidak mengeluh ketika tertimpa kesulitan. Lantas, ada satu hal yang perlu kita pahami bersama, yakni tentang menceritakan musibah. Bercerita tentang musibah mungkin boleh. Namun berbeda dengan menceritakan kesulitan dalam musibah tersebut.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, tiga hal termasuk bagian dari sabar, yaitu:

  1. Tidak menceriakan musibah yang menimpamu
  2. Menahan dari menceritakan rasa sakit hatimu karena musibah
  3. Jangan puji dirimu jika telah sukses menjadi orang yang sabar

Curhat menjadi hal yang lazim dalam masyarakat. Bahkan, sebagian orang tak segan-segan curhat ketika tertimpa musibah. Mereka berpikir bahwa curhat adalah salah satu cara untuk mengurangi rasa sakit dari musibah tersebut.

Baca juga: Dua Sisi Sabar, Bersyukur dan Menahan Diri

Hal ini ada benarnya, namun tak sepenuhnya benar. Pertama, kita perlu tahu tidak semua orang akan merasa iba ketika kita tertimpa musibah. Ada pula bagian dari masyarakat yang senang ketika kita tertimpa musibah.

Allah Ta’ala berfirman pula,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An Nur: 19).

Ayat ini menjelaskan bahwa bukanlah hal baik untuk menceritakan musibah kepada orang lain. Menurut Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin, ayat ini juga melarang menampakkan wajah gembira ketika orang lain tertimpa musibah. Artinya, ada orang-orang yang senang ketika kita tertimpa musibah.

Kedua, Allah mengajarkan kita untuk hanya curhat kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ

“Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)

Maka, termasuk orang sabar mereka yang berdoa dan mengadu kepada Allah. Dengan demikian, kita telah mengetahui salah satu bentuk sabar yang tak lazim.