Takuu Atoll
Beritapapua.id - Takuu Atoll, Pulau yang Hilang

Takuu Atoll, Pulau yang Hilang – Dikenal dengan nama Mortlock Island, lokasinya yang terpencil membuatnya dilupakan oleh dunia. Terisolasi, pulau ini kaya akan musik khasnya.

Tak banyak orang yang tau soal Taku. Bahkan, google pun tak menyajikan cukup gambar untuk menjelaskan apa itu Taku. Sepintas, mesin pencari di internet akan menunjukkan sejumlah gambar seperti cincin yang mengapung di atas laut. Berbentuk lingkaran, mungkin oval, garis yang membentuk oval itu begitu tipis. Anda tak akan percaya bahwa itu merupakan pulau. Bahkan, sulit dipercaya di sana ada kehidupan.

Pulau Kecil Takuu Atoll

Takuu Atoll
Beritapapua.id – Takuu Atoll

Sebuah kepulauan karang yang berbentuk lingkaran, terletak sekitar 250 km dari Bougainville. Atol, dalam kamus bahasa indonesia merupakan sebuah kepulauan yang terbentuk oleh karang, di mana karang tersebut menjulang tinggi dan membentuk permukaan. Bayangkan, sebuah pulau yang terbentuk dari sebuah karang yang menjulang tinggi, tertelan oleh air laut kala pasang. Hilang dan muncul, layaknya pulau dongeng. Keberadaannya seakan ada dan tiada.

Baca juga: Wastra Tanah Papua, Tak Hanya 1001 Sastra, Tapi Juga Wastra

Sejak tahun 2001, masyarakat Takuu mengkhawatirkan ihwal naiknya permukaan air laut di Takuu. Dr Thomas Mann, seorang geologist yang menulis yang meneliti atol mengatakan bahwa perubahan iklim sangat mempengaruhi kehidupan di Takuu. Sekitar tahun 2010, Dr Richard Moyle dari Queensland Conservatorium Research Center yang telah mendokumentasikan bahasa dan musik masyarakat Atol mengatakan hanya tersisa sekitar 300 atau 150 orang di sana.

Taku, merupakan pulau yang masuk ke dalam wilayah Papua Nugini. Setidaknya kepulauan taku terdiri dari 13 pulau. Jumlah ini belum dapat dikonfirmasi kebenarannya berapa jumlah yang sudah tenggelam. Tak banyak diketahui jumlah suku yang tersisa, di antaranya Nukuria, suku yang tinggal 160 km ke arah barat, dan Nukumanu yang tinggal 135 ke arah timur. Melihat kehidupan yang mulai terkikis, masa depan atol sulit diprediksi. Satu paradoks yang muncul: melakukan relokasi terlihat sebagai solusi, namun ini akan berdampak pada budaya yang dipertahankan oleh masyarakatnya.

Pemanasan global, perubahan suhu bumi yang drastis merupakan ancaman nyata bagi seluruh makhluk hidup yang tinggal di sana. Salah satunya masyarakat Atol. Hidup dalam ketidakpastian, terombang-ambing di atas lautan pasifik, rumah bagi mereka, rumah bagi budaya mereka. Sudah kah anda mendengar kabar mereka saat ini? Tinggal di dataran yang terbentuk dari sebuah karang tak pernah terbayang oleh siapapun. Merelokasi mereka terdengar sebagai jawaban atas keresahan mereka. Masyarakatnya bisa selamat, tapi mungkin tidak bagi budaya mereka.