Tan Malaka
Tan Malaka, Komunisme dan Republik Indonesia

Tanggal 23 Maret 1963, Ir Soekarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 53/1963. Tan Malaka merupakan tokoh kiri yang kita kenal melalui karyanya yang fenomenal “Madilog”.

Tan Malaka

Dia merupakan tokoh yang dituding terlibat dalam peristiwa 3 Juli 1946 – Kudeta Pertama di Indonesia paska kemerdekaan. Kala itu, dia dan Kelompok Persatuan Perjuangan yang menginginkan pengakuan kedaulatan penuh nusantara, menculik beberapa anggota Kabinet Sjahrir II. Akibat peristiwa ini, dia dan rekan-rekannya ditangkap dengan tuduhan makar, dan bebas begitu saja ketika peristiwa Pemberontakan Madiun terjadi pada tahun 1948. Baca juga: Hikayat Kudeta Indonesia dan Lelakonnya

Nama Tan Malaka mungkin masih agak sumir dalam sejarah perjuangan Indonesia. Namun pria yang dilahirkan dengan nama Ibrahim Datuk Sutan Malaka pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Sumatera Barat ini merupakan seorang tokoh revolusioner, yang menggagasi Republik Indonesia, lampau sebelum Proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta.

Dia menuangkan gagasannya mengenai republik ini dalam manuskripnya yang berjudul Naar de Republiek pada tahun 1925. Mohammad Yamin menyebutnya Bapak Republik Indonesia, dan hingga kini bagi beberapa kalangan, Tan Malaka dianggap sebagai The True Founding Father of Indonesia.

Mengecap Pendidikan di Belanda dan Menjadi Guru

Baca juga: Manfaat Lidah Buaya Bagi Kesehatan Tubuh

Pada tahun 1913, dengan bantuan dana warga desanya, Tan Malaka berangkat ke Belanda di Rijksweekschool – sebuah lembaga pendidikan guru pemerintah. Selama menempuh pendidikan ini lah, ia mulai jatuh cinta dengan nasionalisme dan revolusi setelah membaca buku de Fransche Revolutie. Ketertarikan Tan Malaka dengan paham komunisme pun muncul ketika ia menempuh pendidikan di Belanda. Karya-karya Karl Marx, Vladimir Lenin dan Friedrich Engels pun menjadi inspirasi terhadap pergerakan sosialnya di masa datang.

Setelah mengenyam pendidikan di Belanda, dia kembali ke Indonesia dan menjadi guru Bahasa Melayu untuk anak-anak buruh perkebunan teh dan tembakau di Sumatera Utara. Beranjak dari pengalaman inilah, Tan Malaka mulai memupuk ideologinya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dari kolonialisme Belanda.

Dia kemudian bergabung dengan sebuah perkumpulan sosial yang bernama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), yang didirikan oleh Henk Sneevliet, tokoh yang pernah ditemuinya di Belanda. Perkumpulan yang cukup radikal dalam membela penindasan atas kolonialisme, terutama oleh Belanda dalam merampas hak tanah dari rakyat.

Akhirnya dia mati ditembak oleh Suradi Tekebek, dari Batalion Sikatan, Divisi Brawijaya, pada 21 Februari 1949 dan dimakamkan di Kediri. Hingga kini, lokasi tempat Tan Malaka dimakamkan masih belum diketahui dengan pasti. Banyak juga yang berteori bahwa Tan Malaka tidak betul-betul ditembak pada saat itu, namun menghilang di tengah bumi.