Tari Gatzi, Tarian Khas Suku Marlind di Papua
beritapapua.id - Tari Gatzi, Tarian Khas Suku Marlind di Papua - Grid.ID

Tari Gatzi merupakan salah satu tarian tradisional khas Suku Marlind di Papua yang sampai sat ini masih kerap dipentaskan dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Tarian Gatzi akan ditarikan dalam acara khusus seperti kelahiran anak, pesta adat, dan juga sebagai tarian penyambutan. Bahkan tarian ini juga dilakukan dalam upacara adat seperti dalam acara Tanam Sasi ataupun dalam pesta Tusuk Telinga.

Tarian ini dilakukan dengan membentuk gerakannya melingkar membentuk barisan lingkaran kecil dan barisan lingkaran besar yang mengelilingi barisan lingkaran kecil tersebut. Sampai-sampai  dapat membuat tanah menjadi cekung akibat gerakan berputar para penarinya. Dalam melakukan tarian ini akan diiringi alat musik tradisional Tifa. Tifa terbuat dari kayu dan kulit binatang, dan dapat menghasilkan suara yang merdu. Suara dari tifa itulah yang akan mengiringi langkah kaki para penari. Selain suara dari alat musik tifa, nyanyian yang dinyanyikan oleh penari juga ikut mengiringi tarian ini. Tarian ini biasanya akan ditarikan selama beberapa menit bahkan sampai berjam-jam. Bahkan tarian ini pernah dilakukan mulai dari sore sampai pagi di hari.

Baca Juga: Aktor Tom Hanks dan Istri Sembuh dari Virus Covid-19

Makna Tari Gatzi

Tarian Gatzi milik Suku Marlind ini masih terus dilestarikan hingga saat ini. Suku Marlind tinggal di Desa Wendu, di pesisir pantai Distrik Semangga, Kabupaten Merauke di Provinsi Papua. Tari Gatzi menyimbolkan kebudayaan di suku Marind masih patuh terhadap adat dan budaya. Tarian ini memiliki makna agar selalu patuh terhadap aturan adat serta selalu menjaga tradisi dan budaya. Tari ini menggambarkan bahwa suku marlind akan selalu patuh terhadap budayanya meskipun zaman telah modern.

Tarian Gatzi bisa dilakukan oleh semua masyarakat dari setiap kalangan. Mulai Laki-laki dan perempuan, orang dewasa dan anak-anak sering menarikannya. Jumlah peserta tari gatzi mulai dari puluhan bahkan hingga ratusan orang. Para penarinya pun kerap mengenakan pakaian adat khusus yang terbuat dari serat daun sagu dan daun kelapa muda. Yang dibentuk menjadi sebuah rok rumbai sebagai penutup bagian bawah tubuh. Tidak lupa mereka mengenakan hiasan wajah dengan motif khusus yang mencerminkan marganya.