Tari Magasa Suku Arfak
Tari Magasa Suku Arfak

Tari Magasa – Sebagai daerah yang penuh dengan keanekaragaman budaya, masih banyak keindahan adat mereka yang jarang dipublikasikan ke masyarakat luas. Baik dari hasil karya mereka hingga tarian khas mereka, hal-hal ini masih butuh sorotan khusus agar warga Indonesia dapat lebih mengapresiasi adat dan budaya Papua. Salah satu dari kebudayaan yang butuh sorotan itu adalah Tari Magasa, sebuah tari yang berasalkan dari Papua Barat.

Tarian yang berasalkan dari suku Arfak ini merupakan tarian yang dibawakan secara bersama-sama antara penari pria dan wanita. Para penari tersebut akan membuat sebuah barisan memanjang dengan saling berpegangan tangan sehingga Tari Magasa sering disebut tarian ular. Tarian ini sering dipentaskan untuk merayakan sebuah kemenangan atau kesuksesan namun tarian ini juga sering ditampilkan untuk menjamu dan menyambut tamu kehormatan.

Baca Juga: Melihat Kasus Reinhard Sinaga dari Sudut Pandang KUHP

Pementasan Tari Magasa

Pada pementasan Tari Magasa, para penari menyanyikan syair dan lantunan lagu tanpa iringan musik. Namun walaupun tanpa iringan musik, tarian mereka dapat tetap sinkron dengan lagu dikarenakan nyanyian para penari yang fokus pada satu suara. Tarian Magasa juga cukup sederhana, dengan formasi saling berpegangan tangan sebelum mereka melompat kekiri dan kanan secara bersamaan. Gerakan mereka sangat menarik dikarenakan variasi tarian mereka yang meliuk gemulai sehingga menyerupai ular.

Saat menampilkan tarian ini, para penari mengenakan kostum yang merupakan pakaian adat. Untuk penari wanita, mereka mengenakan kain untuk menutupi bagian dada hingga mata kaki. Selain itu, mereka juga mengenakan aksesoris yang berupa hiasan kepala yang terbuat dari bunga dan daun sagu. Untuk penari pria, mereka hanya memakai kain cawat dan hiasan kepala yang terbuat dari burung Cendrawasih. Mereka juga membawa senjata seperti pedang atau tombak untuk menjadi aksesoris mereka dalam menari.

Tari Magasa terus menjadi sebuah persembahan adat bagi para turis, tamu dan warga setempat. Hal ini dikarenakan keinginan masyarakat Papua Barat, terutama Suku Arfak untuk menjaga dan melestarikan budaya mereka. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan terus menampilkan tarian ini untuk menjadi daya tarik wisata dan budaya Papua.